Investasi Kehutanan yang Berkelanjutan di NTB

  • 31 Mar 2026 22:50 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Pelestarian hutan dilakukan warga Desa Mareje Timur, Lombok Barat, telah berhasil dan memberi manfaat bagi warga desa berupa biji kemiri. Kemiri dijual kepada pengepul dan memberikan keuntungan setiap tahun.

Potensi wisata ternyata tidak hanya sebatas keindahan alam, tetapi juga menyangkut tentang edukasi fungsi pepohonan. Perubahan sudut pandang inilah yang menjadi upaya warga Desa Mareje Timur, Kecamatan Lembar, Lombok Barat. Mengupayakan tanam sampai berbuah pohon kemiri. Pohon kemiri yang semula menjadi tujuan utama reboisasi telah memberikan manfaat ganda, yaitu kesejukan.

Sehingga, di Mareje Timur, untuk saat ini, berpotensi menjadi area bumi perkemahan bagi pelajar dan mahasiswa. Peserta camping ground dapat mendirikan tenda yang berdampingan dengan shelter milik desa. Selanjutnya, peserta dapat ikut memungut kemiri sebagai atraksi sekaligus edukasi tentang praktik agroforestry atau kebun campur.

H. Zaenuddin, warga Desa Mareje Timur yang juga Ketua KTH Malek Mudi mengatakan, wisata ini masih terbilang baru, berbasis ekologi. Sedangkan Telaga Pandan Wangi ini pula baru berumur beberapa tahun.

“Ya, sekitar tiga tahun Hanya masih kurang dalam publikasi atau pemberitaan. Mudah-mudahan ke depan bisa berjalan dengan maksimal karena didukung berbagai jenis pepohon. Diantaranya, kayu putih dan kemiri. Namun, yang sudah bisa didapat hasilnya adalah biji kemiri,” katanya kepada RRI Mataram, Oktober 2025 di kediamannya di Mareje Timur.

Praktik agroforestry atau kebun campur menjadi strategi penghijauan H. Zaenuddin bersama anggota Kelompok Petani Hutan Malek Mudi. Anggota kelompok sudah bisa merasakan keuntungan dari menanam kemiri. Praktik serupa pernah dilakukan terhadap pohon kayu putih. Namun, karena ketidakpastian di tingkat penjualan membuat warga beralih ke pohon kemiri.

Upaya yang dilakukan Pak Haji Zaenuddin dan masyarakat Desa Mareje Timur adalah praktik baik tentang pelestarian hutan. Sepuluh tahun memang bukan waktu yang singkat. Tetapi dengan segala tekad yang sudah dimiliki hasilnya sudah dapat dirasakan saat ini.

“Dulu petani pernah tanam lengkuas, tapi harga turun dan tidak laku. Sehingga mereka kemudian kapok menanam. Habis sudah cerita tanaman lengkuas itu,” katanya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....