UMKM Pasar Seni Senggigi Masih Bertahan meski Penjualan Menurun
- 30 Mar 2026 19:20 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Barat - Pantai Senggigi kembali menjadi pusat perhatian publik setelah ditetapkan sebagai lokasi utama perayaan Lebaran Topat Lombok Barat 2026. Pemerintah daerah menaruh harapan besar pada kawasan ini sebagai motor penggerak ekonomi sekaligus sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, di balik geliat promosi dan optimisme tersebut, kondisi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) justru belum sepenuhnya pulih.
Di lapangan, realitas berbicara berbeda. Aktivitas ekonomi yang diharapkan meningkat belum dirasakan merata, khususnya oleh para pedagang di kawasan Pasar Seni Senggigi. Salah satu pelaku UMKM, Abdul, mengungkapkan penjualan dalam setahun terakhir justru mengalami penurunan signifikan.
“Sekarang ini lebih ke bertahan saja. Kadang dua hari jualan, satu hari tidak. Tidak seperti dulu yang rutin,” ujar Abdul saat ditemui RRI di konter Pasar Seni Senggigi, Sabtu 28 Maret 2026.
Abdul yang telah berjualan sejak akhir 1980-an menilai perubahan besar mulai dirasakan pasca gempa Lombok. Hingga kini, menurutnya, kondisi belum sepenuhnya kembali seperti sebelum bencana tersebut.
Ia juga menyoroti menurunnya jumlah wisatawan mancanegara yang sebelumnya menjadi penyumbang utama penjualan.
“Wisatawan masih ada, tapi daya belinya menurun. Sekarang lebih banyak lokal, itu pun tidak terlalu belanja,” katanya menegaskan.
Selain faktor daya beli, kondisi kawasan yang belum tertata optimal turut menjadi kendala. Proses renovasi Pasar Seni Senggigi yang masih berjalan membuat aktivitas jual beli belum bisa berlangsung maksimal. Dari puluhan pedagang yang dulu aktif, kini hanya sekitar 30 orang yang masih bertahan.
Abdul berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan perawatan fasilitas.
“Kalau sudah dibangun, harus dijaga. Kebersihan dan keamanan itu penting. Jangan cuma bangun saja,” ucapnya.
Kontras antara optimisme pemerintah dan realitas yang dihadapi pelaku UMKM menjadi catatan penting dalam pengembangan pariwisata Senggigi. Potensi kawasan ini sebagai penggerak ekonomi daerah memang besar, namun tanpa penguatan sektor riil di tingkat bawah, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat kecil.
Momentum Lebaran Topat seharusnya menjadi titik kebangkitan, bukan sekadar seremoni tahunan. Pemerintah diharapkan mampu menghadirkan kebijakan yang lebih inklusif agar geliat pariwisata benar-benar berdampak pada kesejahteraan pelaku usaha lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....