Gejolak Timur Tengah, Bayangi Stabilitas Ekonomi NTB, Harga BBM Berpotensi Naik
- 23 Mar 2026 11:12 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap dampaknya di daerah, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB). Jalur distribusi energi global yang terganggu dinilai berpotensi memicu efek berantai pada kondisi ekonomi lokal. Situasi ini menuntut kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam mengantisipasi dampak yang muncul.
Ketua STAI Darul Kamal, Muhammad Said, menilai konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memiliki implikasi serius terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Menurutnya, posisi strategis Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menentukan distribusi minyak global. Hal ini secara langsung akan berdampak pada negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut. Jika terjadi gangguan, maka dampaknya akan dirasakan hingga ke Indonesia, termasuk NTB. Kondisi ini membuka kemungkinan terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak dalam waktu dekat.
“Kita harus bersiap karena pasokan energi global sangat bergantung pada kawasan itu. Kalau distribusi terganggu, maka harga BBM hampir pasti akan mengalami kenaikan,” jelasnya, Seni 23 maret 2026.
Menurutnya, dampak ekonomi tidak hanya berhenti pada sektor energi. Kenaikan harga BBM akan memicu inflasi dan berdampak pada daya beli masyarakat. Hal ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain itu, sektor transportasi dan logistik juga akan terkena dampak signifikan. Biaya distribusi barang diperkirakan meningkat seiring naiknya harga bahan bakar. Kondisi ini akan berimbas pada harga kebutuhan pokok di masyarakat.
Muhammad Said menegaskan bahwa pemerintah daerah harus segera mengambil langkah antisipatif. Kebijakan strategis diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi lokal. Terutama dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan dasar masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Sinergi kebijakan dinilai menjadi kunci dalam menghadapi dampak global yang tidak bisa dihindari. Tanpa koordinasi yang baik, dampak krisis bisa semakin meluas.
“NTB tidak bisa berdiri sendiri menghadapi situasi ini. Harus ada kebijakan terpadu antara pusat dan daerah agar dampaknya bisa ditekan,” katanya.
| Baca juga: Kodim Loteng Gelar Patroli Skala Besar |
Di sisi lain, masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan ekonomi. Pola konsumsi yang lebih bijak dinilai penting dalam menghadapi potensi krisis. Kesadaran kolektif menjadi salah satu faktor penentu ketahanan ekonomi.
Muhammad Said juga melihat perlunya diversifikasi energi sebagai solusi jangka panjang. Ketergantungan terhadap energi impor harus mulai dikurangi. Hal ini penting untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Ia menilai momentum krisis ini bisa menjadi titik balik bagi pemerintah. Kebijakan energi alternatif harus mulai diperkuat secara serius. Dengan begitu, dampak krisis global di masa depan dapat diminimalisir.
“Kalau kita terus bergantung pada energi luar, maka kita akan selalu rentan terhadap konflik global,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....