Fenomena Pengemis saat Ramadan, Guru Besar UIN Mataram Soroti Faktor Sosial
- 11 Mar 2026 17:06 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Bulan Ramadan identik dengan meningkatnya semangat berbagi di tengah masyarakat. Banyak orang berlomba-lomba menyalurkan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. Namun di sisi lain, fenomena tersebut juga diiringi dengan meningkatnya jumlah pengemis dan pengamen di ruang publik.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag., menilai fenomena tersebut tidak bisa dipahami secara sederhana karena berkaitan dengan berbagai faktor sosial dan ekonomi.
Menurut Prof. Masnun, meningkatnya jumlah pengemis pada bulan Ramadan berkaitan erat dengan faktor kemiskinan serta budaya ketergantungan terhadap belas kasihan masyarakat.
“Masalah pengemis ini sebenarnya persoalan sosial yang sudah lama ada. Ramadan hanya menjadi momentum ketika jumlahnya terlihat lebih banyak,” katanya, Rabu 11 Maret 2026.
Ia mengatakan tingginya tingkat kedermawanan masyarakat pada bulan puasa sering dimanfaatkan oleh sebagian pihak. Hal ini membuat aktivitas meminta-minta di jalan menjadi lebih marak dibandingkan waktu lainnya.
“Pada bulan Ramadan masyarakat cenderung lebih mudah memberi. Itu sebabnya fenomena pengemis juga meningkat,” ujar Prof. Masnun.
Meski demikian, ia menilai pemberian uang secara langsung di jalan bukanlah solusi yang tepat. Praktik tersebut justru dikhawatirkan memperkuat pola hidup bergantung pada belas kasihan orang lain.
“Kita tentu tidak boleh kehilangan rasa empati. Namun cara membantu juga harus dipikirkan agar tidak menimbulkan ketergantungan,” jelasnya.
Prof. Masnun mengusulkan agar masyarakat lebih bijak dalam menyalurkan bantuan dengan memanfaatkan lembaga sosial resmi. Dengan sistem yang terorganisasi, bantuan dapat digunakan untuk program pemberdayaan seperti pelatihan keterampilan, pendidikan, maupun dukungan modal usaha.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam menangani para pengemis.
“Mereka tetap manusia yang harus dihargai martabatnya. Pendekatan yang dilakukan harus tetap manusiawi,” katanya.
Selain itu, pemerintah dinilai perlu melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap para pengemis yang ada di daerah.
“Dengan pendataan yang baik, pemerintah bisa menentukan langkah pembinaan yang tepat,” ujar Prof. Masnun.
Ia menilai upaya penanganan harus dilakukan secara terpadu antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat agar persoalan tersebut tidak terus berulang setiap tahun.
“Jika mereka diberi keterampilan dan peluang usaha, maka budaya mengemis bisa berkurang,” katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....