Lapas Selong Berubah Religius, Warga Binaan Kini Disebut Santri

  • 15 Feb 2026 12:01 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Lapas Kelas IIB Selong kini tampil berbeda di bawah kepemimpinan Sudirman. Hunian yang identik dengan jeruji besi tersebut berubah lebih kental dengan nuansa religius sekaligus produktivitas pembinaan bagi warga binaan.

Sudirman mengaku bangga dapat kembali membangun tanah kelahirannya. Ia juga memuji sinergi kuat antara para pemangku kepentingan dan media di wilayah Lombok Timur, yang menurutnya tidak ditemui di daerah lain selama masa penugasannya.

Salah satu terobosan paling menonjol adalah perubahan paradigma pembinaan. Ia tidak lagi menyebut warga binaan sebagai narapidana, melainkan “santri”.

Aktivitas harian pun diarahkan pada pembinaan keagamaan, seperti membaca Al-Qur’an melalui pembentukan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), sehingga suasana di dalam lapas menyerupai pondok pesantren.

“Kami ingin menyentuh hati mereka dengan agama agar saat keluar nanti, mereka tidak kembali lagi ke sini,” ujarnya. Minggu, 15 Februari 2026.

Berdasarkan data pembinaan, dari total 496 warga binaan terdapat 149 orang yang sebelumnya belum mengenal huruf hijaiyah. Namun semangat belajar para santri dinilai sangat tinggi, termasuk mereka yang telah berusia lanjut.

Program unggulan yang dijalankan meliputi One Day One Juz, kewajiban membaca Al-Qur’an setiap selesai salat Zuhur, sistem mentor di mana santri yang telah lancar mengaji menjadi guru bagi yang masih belajar, serta program Satu Santri Satu Al-Qur’an dengan fasilitas pembinaan yang lengkap.

Selain pembinaan spiritual, Lapas Selong juga memberikan keterampilan kerja melalui berbagai program kemandirian. Di antaranya bengkel pengelasan, jasa cuci mobil dan motor, serta pelatihan keterampilan bersertifikat bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).

Melalui pelatihan tersebut, para santri diharapkan memiliki bekal keahlian dan sertifikat resmi untuk mencari nafkah halal setelah bebas. Produk karya warga binaan bahkan dipasarkan melalui merek lokal Sel 199.

“Harapan kami besar. Kami ingin mereka keluar dari sini bukan sebagai mantan warga binaan, tetapi sebagai santri yang membawa perubahan bagi masyarakat,” pungkas Sudirman.

Sinergi antara pembinaan kepribadian berbasis agama dan kemandirian berbasis keterampilan tersebut diharapkan menjadi modal utama bagi para santri untuk memulai lembaran hidup baru yang lebih baik. Bahkan, setiap santri yang bebas dibekali Al-Qur’an sebagai pengingat perjalanan spiritual mereka selama menjalani masa pembinaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....