Stok Pangan Melimpah, namun Dua Desa Rentan Pangan
- 12 Feb 2026 16:16 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Sumbawa: Kabupaten Sumbawa mencatat stok pangan yang melimpah pada awal 2026. Ketersediaan beras mencapai 32.846,42 ton, jauh melebihi kebutuhan masyarakat sekitar 1.624,51 ton, sehingga menghasilkan surplus 31.221,91 ton. Komoditas lain seperti jagung juga menunjukkan kondisi aman dengan ketersediaan 110.789 ton dibanding kebutuhan 30,93 ton.
Meski demikian, kondisi ini belum sepenuhnya merata di seluruh wilayah. Berdasarkan pemetaan terbaru Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumbawa, beberapa desa masih termasuk kategori rentan pangan. Dua di antaranya adalah Desa Mungkin di Kecamatan Orong Telu dan Desa Buin Baru di Kecamatan Buer.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sumbawa, Syaihuddin, mengatakan ketersediaan pangan di kedua desa itu masih terganggu oleh faktor distribusi dan sarana pendukung. Di Desa Mungkin, keterbatasan distribusi tenaga kesehatan serta minimnya sarana penjualan pangan, seperti kios, membuat masyarakat harus membeli ke desa lain dengan jarak yang cukup jauh. Sehingga harga pangan relatif lebih mahal.
“Kalau tidak ada kios, masyarakat harus pergi ke desa lain untuk membeli bahan pangan, yang tentunya memengaruhi daya beli dan ketersediaan pangan di sini,” jelas Syaihuddin, Kamis 12 Februari 2026.
Sementara itu, Desa Buin Baru menghadapi tantangan yang berbeda. Tingginya perbandingan jumlah penduduk dengan luas lahan, keterbatasan pasokan pangan lokal, dan akses air bersih yang belum optimal, membuat desa ini masuk kategori prioritas tiga rentan pangan. Kondisi ini menuntut perhatian khusus agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Buin Baru masuk prioritas tiga karena kombinasi faktor lahan, pasokan pangan, dan akses air bersih. Data ini terus kami perbarui agar intervensi tepat sasaran,” kata Syaihuddin.
Secara umum, Syaihuddin menegaskan bahwa ketahanan pangan Kabupaten Sumbawa tetap dalam kondisi aman. Selain beras dan jagung, komoditas protein hewani seperti daging sapi, daging ayam, dan telur ayam juga mencukupi kebutuhan masyarakat. Harga pangan strategis relatif stabil, bahkan beberapa komoditas seperti minyak goreng dan gula pasir mengalami penurunan harga.
Namun, ia menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan, tetapi juga akses distribusi dan pemanfaatan pangan. Salah satu langkah antisipatif yang dilakukan Dinas Ketahanan Pangan adalah menyiapkan cadangan beras sekitar 30 ton pada 2026. Cadangan ini ditujukan tidak hanya untuk bencana, tetapi juga untuk membantu wilayah rawan pangan seperti Desa Mungkin dan Buin Baru.
“Cadangan pangan ini penting untuk mendukung daerah yang masih rentan. Kami terus mengupayakan pengadaannya agar distribusi tepat sasaran,” ujar Syaihuddin.
Menurutnya, perbaikan ketahanan pangan Sumbawa tidak terlepas dari langkah pemerintah daerah dalam meningkatkan distribusi tenaga kesehatan dan akses air bersih. Meski demikian, pembangunan infrastruktur jalan masih menjadi tantangan karena membutuhkan biaya besar.
“Kami berharap sinergi lintas sektor terus diperkuat agar ketahanan pangan Sumbawa tetap stabil, merata, dan semua warga, termasuk di desa rentan, bisa terpenuhi kebutuhan pangannya,” pungkas Syaihuddin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....