Disrupsi Digital Perketat Persaingan Media Saat Ini

  • 08 Feb 2026 15:28 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram (Unram), Dr. Ir. Agus Purbathin Hadi, M.Si., menilai disrupsi digital menjadi tantangan utama yang menguji kredibilitas pers nasional. Perubahan lanskap media akibat perkembangan teknologi, menurutnya, telah menggeser pola produksi dan distribusi informasi secara signifikan.

“Sekarang kita menghadapi disrupsi digital yang begitu masif. Siapa pun bisa membuat media online dengan sangat mudah,” jelasnya, Minggu 8 Februari 2026.

Menurut Agus, kemudahan tersebut berdampak pada kaburnya batas antara kerja jurnalistik profesional dan produksi konten tanpa verifikasi. Kondisi ini berimplikasi langsung pada tingkat kepercayaan publik terhadap media.

Ia menjelaskan bahwa derasnya arus informasi meningkatkan potensi penyebaran hoaks. Publik, dalam situasi tersebut, sering kali kesulitan membedakan informasi faktual dan manipulatif.

“Kalau kebohongan terus diulang dan disuarakan, lama-lama bisa diterima sebagai kebenaran. Itu yang berbahaya,” ujarnya.

Agus menilai media arus utama masih memiliki keunggulan melalui mekanisme redaksional yang ketat. Proses verifikasi dan keberimbangan disebutnya sebagai pembeda utama dengan media tidak terstandar.

Ia mencontohkan lembaga penyiaran publik yang menerapkan seleksi berlapis sebelum sebuah berita ditayangkan. Standar tersebut dinilai menjaga kualitas sekaligus akurasi informasi.

“Suatu berita bisa tayang karena melewati proses redaksional yang ketat. Itu yang membuat media profesional tetap dipercaya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai Dewan Pers perlu memperkuat fungsi pengawasan terhadap media daring. Regulasi yang adaptif dianggap penting untuk menjaga kualitas ekosistem informasi.

Agus mengungkapkan bahwa masih banyak media online belum terverifikasi secara resmi. Kondisi ini berpotensi merusak standar etik dan profesionalisme jurnalistik.

“Penguatan regulasi dan standar etik menjadi kunci menjaga kualitas pers di era disrupsi,” tegasnya.

Ia berpandangan bahwa disrupsi digital tidak dapat dihindari, melainkan harus dikelola dengan pendekatan profesional dan berintegritas. Adaptasi teknologi, menurutnya, harus berjalan seiring dengan konsistensi prinsip verifikasi dan keberimbangan.

Agus menegaskan bahwa kredibilitas akan menjadi modal utama pers nasional dalam menghadapi kompetisi informasi yang semakin terbuka dan tidak terbatas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....