Tradisi Nyelamet Dowong, Warga Denggen Jelang Panen
- 02 Feb 2026 18:54 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Puluhan perempuan berjalan beriringan sambil membawa baki tradisional khas Sasak yang dikenal dengan sebutan tembolaq pada pelaksanaan upacara adat Nyelamet Dowong di Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, Senin, 2 Februari 2026. Tembolaq tersebut berisi hasil bumi serta aneka kue tradisional khas Pulau Lombok, termasuk nasi dan ketupat lengkap dengan lauk-pauknya.
Rombongan perempuan membawa tembolaq keluar dari areal masjid menuju makam leluhur. Di lokasi tersebut dilakukan ritual zikir dan doa, sekaligus pengambilan air suci di mata air Merta Sari yang kemudian akan dialirkan ke area persawahan.
Upacara adat Nyelamet Dowong merupakan tradisi tahunan masyarakat Kelurahan Denggen yang dilaksanakan sebelum masa panen tiba. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk ikhtiar menyelamatkan padi atau tanaman pertanian dari serangan hama.
Tokoh adat Kelurahan Denggen, Lalu Selamet, menjelaskan bahwa upacara ini wajib dilaksanakan ketika padi berumur sekitar satu bulan. “Kegiatan ini selalu dilaksanakan setiap tahun ketika padi sudah berumur satu bulan dan upacara adat ini harus dilakukan,” jelasnya.
Ia menuturkan, rangkaian ritual Nyelamet Dowong berlangsung selama dua hari. Hari pertama dilaksanakan pada Jumat dengan agenda pembersihan makam para leluhur, kemudian dilanjutkan pada hari Minggu dengan prosesi pemotongan ayam.
“Pemotongan ayam ini dilakukan di satu tempat dan dibuatkan lubang. Filosofinya supaya penyakit tidak menyebar. Darah ayam kemudian dialirkan ke daun bambu sehingga darah tersebut menempel di daun bambu,” beber Lalu Selamet.
Menurutnya, daun bambu yang telah tertempel darah ayam tersebut sejak dahulu dimanfaatkan masyarakat sebagai pestisida alami. “Dulu kan belum ada pestisida, jadi daun bambu yang tertempel darah ayam ini dimanfaatkan sebagai pengendali hama alami. Daun bambu itu diletakkan di tengah sawah karena hama akan menempel akibat bau amis darah ayam. Setelah hamanya kenyang, mereka akan mati,” imbuhnya.
Selain itu, air suci dari mata air Merta Sari memiliki peran penting dalam ritual ini. Air tersebut dialirkan ke sawah agar hama yang telah mati dapat hanyut dengan sendirinya.
“Intinya, upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar hasil panen berlimpah. Harapannya swasembada pangan seperti yang menjadi nawacita pemimpin kita dapat tercapai,” pungkas Lalu Selamet.
Sementara itu, salah seorang warga, Amaq Muslihin, mengaku antusias mengikuti rangkaian tradisi Nyelamet Dowong. Ia secara sukarela menyediakan berbagai makanan dan buah-buahan untuk disantap bersama masyarakat dan tamu undangan.
“Kami di sini secara swadaya menyajikan semua ini untuk dinikmati bersama. Apalagi padi saya sudah mulai menguning, jadi saya berharap hasil panen nanti berlimpah setelah berdoa melalui upacara adat Nyelamet Dowong ini,” kata Amaq Muslihin sembari menikmati hidangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....