Dinkes Pastikan Belum Ada Kasus Nipah di NTB

  • 02 Feb 2026 17:56 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus penyakit Virus Nipah di Indonesia, termasuk di wilayah NTB. Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat penyakit zoonosis ini memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr. Lalu Hamdi Fikri, menjelaskan virus Nipah merupakan penyakit menular dari hewan ke manusia yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Tingkat fatalitasnya dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen. 

"Karena itu, meskipun belum ada kasus terkonfirmasi, langkah antisipasi tetap diperlukan," jelas Fikri, melalui keterangannya, Senin, 2 Februari 2026.

Pemerintah Provinsi NTB kata Fikri, menerapkan prinsip “tenang namun waspada” dalam menyikapi isu tersebut. Masyarakat diminta tidak panik, sementara pemerintah memperkuat surveilans, deteksi dini, serta kesiapsiagaan respons apabila ditemukan kasus suspek.

Ia mengatakan, penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, baik hewan liar maupun domestik. Penularan juga bisa terjadi melalui paparan ekskresi dan sekresi hewan, serta kontak langsung dengan manusia yang terinfeksi melalui cairan tubuh seperti droplet, urin, dan darah.

“Selain itu, penularan tidak langsung juga dapat terjadi melalui benda atau makanan yang terkontaminasi virus,” katanya.

Masa inkubasi Virus Nipah umumnya berlangsung antara 4 hingga 14 hari. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Dalam kasus tertentu, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan neurologis serius seperti penurunan kesadaran hingga ensefalitis akut.

Beberapa kelompok dinilai memiliki risiko lebih tinggi, antara lain pelaku perjalanan dari negara terjangkit, peternak dan pemotong babi di wilayah yang berdekatan dengan populasi kelelawar buah yang dikenal sebagai reservoir alami virus serta masyarakat yang mengonsumsi nira atau buah yang terkontaminasi cairan tubuh hewan terinfeksi. Tenaga kesehatan dan anggota keluarga yang merawat pasien juga termasuk kelompok berisiko.

Hingga kini, belum tersedia pengobatan spesifik untuk Virus Nipah. Penanganan masih bersifat suportif dengan fokus pada perawatan gejala dan pencegahan komplikasi. 

"Oleh karena itu, potensi masuknya virus tetap perlu diantisipasi, terutama melalui mobilitas pelaku perjalanan internasional," ujar Fikri.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menghindari konsumsi makanan yang berisiko terkontaminasi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mencurigakan, khususnya setelah melakukan perjalanan atau kontak berisiko.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....