Sudah Ada Cahaya Diujung Lorong Dalam Penanganan Sampah
- 30 Jan 2026 10:23 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Kita bersyukur, setelah bertemu tiga Kepala Daerah,dalam satu meja yang diinisiasi Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, dengan Walikota Mataram H. Mohan Roiskana dan Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini (LAZ), menyusul kondisi darurat Land Fill di TPA Kebon Kongok, hamper over load, sudah ada titik terang. Artinya sudah ada cahaya di ujung lorong. Meski untuk sementara tetapi sudah ada nafas lega, dalam hal penanganan sampah ini.
Sebab di kalangan bawah mulai kepala dinas yang menangani masalah sampah, beberapa kali melakukan pertemuan, belum menemukan solusi karena memerlukan keputusan kepala daerah. Keputusan setelah bertemu tiga kepala daerah ini, hasilnya melakukan perluasan lahan pembuahan di TPI Kebon Kongok Lombok Barat dengan menyiapkan anggaran masing masing kepala daerah.
Gubernur NTB menyiapkan anggaran untuk penanganan sementara terhadap land fill yang sudah over load sebesar 40 persen, Pemerintah Kota Mataram 40 persen dan Kabupaten Lombok Barat 20 persen. Disamping itu Pemerintah Kota Mataram secara mandiri mempersiapkan lahan lainnya di wilayah Kota Mataram di Bintaro dan Sandubaya.
Pantauan RRI Mataram di seputaran Kota Mataram, hari Jumat, 30 Januari 2026, kegiatan petugas kebersihan yang mengambil sumpah di OPD maupun tumpukan sampah di pinggir jalan, berjalan lancar, tidak ada yang berubah, meski Gubernur NTB sudah bertemua dengan Walikota dan Bupati Lombok Barat. Karena TPA yang menjadi lokasi alternatf TPA Kota Mataram sudah difungsikan juga.
Land Fill Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah terbesar di daerah NTB, tinggal menghitung hari, jika tidak di tangani segera menampung sampah produksi masyarakat Kota Mataram dan Lombok Barat, karena sudah tidak dapat menampung lagi. Produksi sampah baik organik maupun an organik rata rata mencapai 100 hingga 150 ton per hari, dengan kondisi alat transportasi memprihatinkan karena dimakan usia.
Persoalannya tidak hanya terbatas pada semakin banyaknya produksi sampah masyarakat, tetapi juga masalah perilaku masyarakat yang belum menjadikan memilah dan memilih adalah kebutuhan, tetapi juga kondisi pengangkut sampah, dum truck yang sudah dimakan usia, sehingga diharuskan adanya peremajaan.
Pemerhati Pengolahan Sampah Ir.Radius,MSi menyampaikan pemikiran, seharusnya masyarakat sejak dulu memilah sampah menjadi kebutuhan, tetapi sampai dengan hari ini, pemilahan sampah ini belum berjalan maksimal. Fakta hari ini, sampah rumah tangga baik organic maupun an organic, disatukan hanya dimasukkan dalam tas keresek, tanpa dilakukan pemilahan, kondisi ini membuat pengerjaan sampah dua kali di TPA sebelum diolah menjadi bahan yang berguna.
Demikian pula di bidang transportasi, sampah diambil begitu saja, di tempat pembuangan sementara tanpa dilakukan pemilahan, lalu ditumpuk di truk pengangkut sampah dan dibawa ke TPA. Rutinitas seperti ini berjalan setiap hari, karena sudah menjadi tradisi dalam membuang sampah. Sebenarnya Pemerintah Kota Mataram, sudah memiliki Perda pengolahan sampah diantaranya harus melakukan pemilahan, tetapi aturan ini, belum dapat dilaksanakan dengan optimal, hanya baru sebatas pemberian himbauan dari Kelurahan kepada Kepala Lingkungan dan Lingkungan kepada Ketua RT dan Masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....