UMKM Sasak Maiq Bertahan Di Tengah Efisiensi Digitalisasi 2026
- 28 Jan 2026 20:21 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID., Lombok Barat - Di tengah arus efisiensi dan percepatan digitalisasi pada 2026, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Lombok Barat dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Produksi menurun, pola belanja berubah, hingga aktivitas pemerintahan yang semakin dibatasi berdampak langsung pada perputaran ekonomi rakyat.
Namun di balik situasi itu, semangat bertahan tetap menyala. Salah satunya ditunjukkan oleh UMKM Sasak Maiq yang berlokasi di Dusun Penyangget, Desa Senteluk, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat.
Usaha yang berdiri sejak 2013 ini dikenal konsisten mengolah hasil perikanan dan pertanian lokal menjadi produk pangan bernilai jual. Mulai dari stik rumput laut, tortilla rumput laut, dodol rumput laut, abon ikan, terasi, hingga keripik ares berbahan jantung pisang.
Pemanfaatan bahan lokal menjadi kekuatan utama Sasak Maiq sejak awal berdiri. Bahkan ide mengolah jantung pisang menjadi keripik lahir dari situasi pandemi, saat aktivitas keluarga lebih banyak dilakukan di rumah dan ketersediaan bahan baku di kebun melimpah.
Pemilik IKM Sasak Maiq, Sujarman,saat ditemui RRI di Outletnya Desa Senteluk, Rabu 28 Januari 2026 menuturkan bahwa bertahan bukanlah pilihan mudah, tetapi harus dijalani dalam kondisi apa pun.
“Kalau memang harus bertahan ya kami tetap bertahan, mau kondisi ngonjang-ganjing seperti apa pun. Karena usaha ini bukan hanya untuk kami, tapi juga menghidupkan masyarakat yang bekerja bersama kami,” katanya.
Menurut Sujarman, kebijakan efisiensi memberi dampak nyata terhadap produksi dan penjualan. Sebelumnya, pesanan dari toko oleh-oleh bisa mencapai 300 hingga 400 kemasan per hari. Namun saat ini, jumlah tersebut mengalami penurunan cukup signifikan.
“Dulu hampir setiap hari keluar ratusan pcs, sekarang tidak seperti itu lagi. Banyak kegiatan dan pertemuan yang ditiadakan, terutama di lingkungan pemerintahan. Padahal produk kami banyak dikonsumsi untuk kegiatan semacam itu,” ucapnya.
Ia memperkirakan penurunan produksi mencapai sekitar 25 persen. Dampaknya tidak hanya pada jumlah barang yang diproduksi, tetapi juga pada ritme kerja tenaga kerja yang sebelumnya sempat lembur, kini kembali ke jam normal.
Meski demikian, Sasak Maiq tidak tinggal diam. Pengalaman lebih dari satu dekade menjadi modal penting dalam membaca perubahan zaman.
“Selama 11 tahun ini kami banyak belajar. Ikut pelatihan, ikut event, dari sana kami tahu bagaimana cara bertahan walaupun kondisi berubah-ubah,” ujarnya.
Salah satu langkah utama yang kini terus diperkuat adalah pemasaran berbasis digital. Sujarman mengakui bahwa digitalisasi menjadi jalan paling realistis di tengah keterbatasan aktivitas fisik.
“Sekarang hampir semua orang pakai handphone. Jadi pemasaran lewat digital itu sangat membantu,” katanya.
Dalam pengelolaan pemasaran, Sasak Maiq melibatkan generasi keluarga yang lebih muda. Anak dan menantunya dipercaya mengelola media sosial serta aplikasi pemasaran agar produk mampu menjangkau pasar lebih luas.
Hasilnya, produk Sasak Maiq tidak hanya dikenal di NTB, tetapi juga memiliki reseller di luar daerah. Sejumlah produk dipasarkan kembali ke Bali dan Jawa, bahkan sebagian diambil oleh eksportir yang mendistribusikannya ke luar negeri seperti Malaysia.
Selain itu, produk Sasak Maiq juga terakomodasi dalam NTB Mall, sebuah platform yang menghimpun produk unggulan UMKM daerah dengan sistem kurasi dan akurasi pemasaran.
Bagi Sujarman, digitalisasi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan strategi bertahan di tengah perubahan.
“Sekarang ini bukan soal besar atau kecil usaha, tapi siapa yang mau beradaptasi. Kalau tidak ikut berubah, ya akan tertinggal,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....