Dosen UBG: Intervensi Pemerintah Penting Menjaga Harga Bahan Pokok
- 19 Feb 2026 18:37 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Lonjakan harga kebutuhan pokok selama Ramadan kembali menjadi perhatian publik. Kenaikan pada komoditas strategis seperti cabai dan bawang dinilai sebagai pola musiman yang terus berulang setiap tahun. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat menjelang Idulfitri.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Bumigora, Raden Bagus Faizal Irany Sidharta, SE, MM., menilai inflasi pada momentum keagamaan merupakan fenomena yang dapat diprediksi. Ia menyebut lonjakan harga terjadi karena peningkatan konsumsi yang signifikan dalam waktu singkat. Ramadan dan Lebaran menjadi periode dengan tekanan permintaan paling tinggi.
“Ketika ada event besar seperti Ramadan dan menjelang Lebaran, inflasi hampir pasti mengikuti. Permintaan masyarakat naik dalam waktu bersamaan sehingga harga terdorong meningkat,” jelasnya, Kamis 19 Februari 2026.
Ia menjelaskan kebutuhan pokok memiliki posisi strategis dalam struktur konsumsi rumah tangga. Kenaikan harga pangan berdampak langsung pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan menengah. Risiko penurunan daya beli menjadi konsekuensi yang harus diantisipasi.
Menurutnya, intervensi pemerintah menjadi langkah krusial untuk menjaga stabilitas. Operasi pasar dinilai sebagai instrumen jangka pendek yang mampu meredam gejolak harga. Kebijakan ini efektif menambah pasokan sekaligus menekan spekulasi.
“Operasi pasar bisa digencarkan dua minggu menjelang Lebaran di banyak titik. Langkah ini cukup efektif untuk menstabilkan harga di pasar,” katanya.
Ia menambahkan, distribusi yang merata menjadi faktor penting agar manfaat kebijakan dirasakan luas. Pengawasan terhadap rantai pasok juga perlu diperkuat agar tidak terjadi penimbunan. Stabilitas harga membutuhkan respons cepat dan terukur.
Selain langkah jangka pendek, ia mendorong penguatan sistem pemantauan harga berbasis data. Pemerintah dinilai perlu memiliki dashboard harga bahan pokok yang terintegrasi dan mudah diakses publik. Transparansi informasi akan mempercepat respons kebijakan.
“Kita perlu punya data pergerakan harga yang jelas dan terbuka. Dengan dashboard harga, pemerintah dan masyarakat bisa sama-sama memantau,” paparnya.
Ia menilai keterbukaan data juga memperkuat akuntabilitas distribusi. Masyarakat dapat mengetahui fluktuasi harga cabai, bawang merah, hingga bawang putih secara berkala. Sistem tersebut membantu mencegah lonjakan harga yang tidak wajar.
Menurutnya, stabilitas harga tidak hanya berdampak pada ekonomi rumah tangga. Kondisi pasar yang terkendali turut menjaga ketenangan sosial selama Ramadan. Situasi kondusif menjadi bagian penting dari pengelolaan ekonomi musiman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....