Mengapa Pesepak Bola Selalu Selebrasi setelah Cetak Gol?
- 17 Jul 2026 19:17 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Mencetak gol merupakan momen paling ditunggu dalam sebuah pertandingan sepak bola. Tak heran, hampir setiap gol selalu diikuti dengan selebrasi, mulai dari berlari ke arah suporter, memeluk rekan setim, hingga melakukan gestur khas yang menjadi ciri seorang pemain. Namun, di balik ekspresi kegembiraan tersebut, selebrasi ternyata memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar merayakan keberhasilan mencetak gol.
Menurut penelitian Journal of Sport Science (2010) ”Emotional contagion in soccer penalty shootouts: Celebration of individual success is associated with ultimate team success”, selebrasi bukan hanya menjadi bentuk luapan emosi individu, tetapi juga dapat memengaruhi semangat seluruh tim. Penelitian mengenai emotional contagion atau penularan emosi menunjukkan bahwa ekspresi positif setelah sebuah keberhasilan mampu meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, dan kebersamaan antarpemain. Temuan serupa juga dijelaskan dalam jurnal “Deconstructing celebratory acts following goal scoring among elite professional football players” yang menyebutkan bahwa ekspresi emosi dalam olahraga berperan penting dalam membangun mental bertanding sekaligus memperkuat hubungan antarpemain selama pertandingan berlangsung.
| Baca juga: Tren Sepatu Pink di Piala Dunia 2026 |
Selain menjadi pelepasan emosi, selebrasi juga menjadi cara pemain berkomunikasi. Ada yang mendedikasikan gol untuk keluarga, mengenang sosok yang berjasa, menunjukkan rasa syukur, atau berbagi kebahagiaan dengan para pendukung. Bahkan, sejumlah pesepak bola memiliki selebrasi yang telah menjadi identitas mereka, seperti Cristiano Ronaldo dengan selebrasi "Siuuu", Lionel Messi yang kerap menunjuk ke langit sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang neneknya, serta Kylian Mbappé dengan pose tangan menyilang di dada yang kini dikenal luas oleh penggemar sepak bola.
Meski demikian, selebrasi tetap memiliki batasan. Berdasarkan Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB), pemain diperbolehkan merayakan gol selama tidak dilakukan secara berlebihan, tidak memprovokasi lawan maupun penonton, serta tidak mengandung unsur diskriminasi atau tindakan yang membahayakan. Melepas jersey, menutupi wajah dengan topeng, memanjat pagar pembatas, atau melakukan gestur yang dianggap ofensif dapat berujung kartu kuning dari wasit.
Pentingnya memahami makna sebuah gestur pernah terlihat dalam kasus pesepak bola Yunani, Giorgos Katidis, yang menjadi sorotan setelah melakukan selebrasi dengan simbol yang kemudian dianggap menyerupai salam Nazi. Dilansir dari Pandit Football, tindakan tersebut menuai kecaman luas dan berujung sanksi dari Federasi Sepak Bola Yunani. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa sebuah selebrasi tidak hanya dipandang sebagai ekspresi spontan, tetapi juga dapat dimaknai secara sosial, budaya, bahkan politik oleh masyarakat.
Kini, ketika melihat seorang pemain berlari, melompat, atau melakukan gestur tertentu setelah mencetak gol, kita tahu bahwa selebrasi bukan sekadar gaya. Di baliknya tersimpan emosi, makna, dan cerita yang membuat sepak bola lebih dari sekadar permainan. Menurut Anda, selebrasi pemain mana yang paling ikonik dan paling berkesan hingga saat ini? (RRI/Aldi W)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....