Mengapa Ada Hydration Break di Piala Dunia 2026?

  • 18 Jun 2026 12:08 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Saat menyaksikan pertandingan sepak bola, penonton terkadang melihat wasit menghentikan laga selama beberapa menit meski tidak ada pelanggaran atau cedera. Momen tersebut dikenal sebagai hydration break atau jeda minum. Di Piala Dunia FIFA 2026, kebijakan ini kembali menjadi perhatian karena diperkirakan akan lebih sering diterapkan pada pertandingan yang berlangsung dalam cuaca panas.

Dilansir dari FIFA, hydration break merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan dan keselamatan pemain selama pertandingan. Jeda singkat ini memberikan kesempatan bagi pemain untuk mengonsumsi cairan, menurunkan suhu tubuh, dan memulihkan kondisi fisik sebelum laga kembali dilanjutkan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi FIFA dalam menempatkan kesejahteraan pemain sebagai prioritas utama selama turnamen berlangsung.

Penerapan kebijakan ini tidak lepas dari faktor keadaan tuan rumah Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Berdasarkan laporan portal berita Northeastern University, kombinasi suhu tinggi, kelembapan udara, dan aktivitas fisik yang intens dapat mempercepat hilangnya cairan tubuh. Kondisi tersebut berisiko menurunkan performa pemain serta meningkatkan risiko kram otot dan kelelahan akibat panas (heat exhaustion).

Meski kini menjadi sorotan, hydration break sebenarnya bukan hal baru dalam sepak bola. Berdasarkan Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB), wasit memiliki kewenangan memberikan jeda minum apabila kondisi cuaca dianggap berpotensi membahayakan pemain. Hydration break biasanya dilakukan sekitar menit ke-30 pada babak pertama dan menit ke-75 pada babak kedua, dengan durasi sekitar 90 detik hingga tiga menit. Kebijakan serupa juga pernah diterapkan pada Piala Dunia Brasil 2014 dan sejumlah turnamen internasional lainnya.

Di sisi lain, keberadaan hydration break memunculkan berbagai pandangan. Dilansir dari ESPN.com, sebagian pihak menilai jeda tersebut dapat memengaruhi ritme pertandingan karena memberikan waktu tambahan bagi pelatih untuk menyampaikan instruksi taktis. Dalam laga yang berjalan ketat, beberapa menit istirahat dinilai cukup untuk mengubah strategi maupun momentum permainan.

Pandangan serupa datang dari kapten Timnas Belanda, Virgil van Dijk. Dilansir kembali ESPN.com, ia pernah mengkritik penerapan hydration break saat Piala Dunia antar klub 2025 karena dianggap membuat pertandingan terlalu sering terhenti. Meski demikian, Van Dijk tetap mengakui bahwa cuaca panas merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan demi menjaga kondisi pemain di lapangan.

The Athletic yang dimuat oleh The New York Times juga menjelasakan sebagian pengamat melihat jeda minum sebagai peluang tambahan bagi pemegang hak siar untuk menayangkan iklan. Namun, FIFA menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini tetap berkaitan dengan perlindungan kesehatan pemain, bukan kepentingan komersial.

Terlepas dari berbagai perdebatan tersebut, hydration break menunjukkan bagaimana sepak bola terus beradaptasi dengan tantangan baru, termasuk cuaca ekstrem dan meningkatnya tuntutan fisik pemain. Menurut kalian, apakah jeda minum ini murni untuk melindungi pemain, atau justru turut memengaruhi jalannya pertandingan di lapangan? (RRI/Aldi W)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....