Filosofi Rengginang, Camilan Lintas Zaman Sarat Nilai Budaya

  • 11 Agt 2026 15:24 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Rengginang merupakan salah satu jenis camilan kering khas Indonesia. Konon camilan ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Rasanya yang gurih dengan tekstur yang renyah dibuat dari bahan sederhana seperti beras dan ketan.

Kesederhanaan rengginang menyimpan sejumlah cerita dan filosofi. Bukan melulu tentang rasa, tetapi juga nilai budaya yang ada di dalamnya. Meski asal usul rengginang belum bisa dilacak secara pasti, namun camilan ini sudah lama menjadi bagian tradisi masyarakat Indonesia, terlebih bagi suku Jawa, Sunda, dan Sasak.

Dalam Unikom dijelaskan rengginang memiliki sejarah yang panjang dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Menurut sejarah, rengginang telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Pada awalnya, rengginang dibuat sebagai makanan yang tahan lama untuk prajurit yang sedang berperang. Lambat laun seiring berjalannya waktu, rengginang menjadi makanan yang populer di kalangan masyarakat umum.

Sering kali rengginang disajikan dalam upacara adat seperti acara syukuran, sedekah bumi, hingga acara pernikahan. Dalam laman website unikom disebutkan filosofi rengginang berkaitan dengan sifat sederhana dan penghargaan terhadap makanan. Rengginang pada awalnya dibuat dari nasi sisa yang dikeringkan dan diolah kembali. Keadaan seperti ini menggambarkan rasa syukur atas hasil panen dan rezeki yang diberikan oleh Tuhan.

Saat ini, rengginang sudah dibuat dengan berbagai bahan berkualitas seperti beras atau ketan dengan mempertahankan unsur kesederhanaan dan nilai budaya yang dimilikinya.

Hal unik yang dimiliki rengginang yang tidak kalah dengan berbagai camilan lain adalah pada proses penjemuran yang maksimal menjadikan rengginang dapat disimpan hingga berbulan-bulan tanpa tambahan pengawet alias tahan lama. Karena bahan dan proses pembuatannya yang cukup sederhana, sehingga rengginang sangatlah mudah untuk dibuat sendiri di rumah.

Selain itu rengginang sering disajikan dalam upacara adat, menjadikannya bukan hanya sebagai makanan semata tetapi juga simbol tradisi dan bagian penting dari budaya lokal. Proses pembuatannya pun menggunakan metode tradisional yang minim limbah dan energi, yakni dengan proses penjemuran di bawah sinar matahari langsung.

Pada masa kini, rengginang bersaing dengan berbagai camilan instan lain yang lebih praktis. Tetapi, rengginang masih tetap eksis karena rasanya yang unik, khas, serta nilai tradisional yang dibawanya. Terbukti dengan banyak produsen lokal yang mulai memasarkan rengginang dalam versi modern untuk menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan hingga pasar luar negeri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....