Jajan Bantal Khas Lombok, Pelengkap Sajian Lebaran Topat
- 28 Mar 2026 05:53 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Jajan bantal atau tekel khas Lombok berbahan ketan dan pisang, dimasak bersama ketupat saat Lebaran Topat. Sajian ini melambangkan kebersamaan dan menjadi warisan kuliner tradisional masyarakat Sasak.
RRI.CO.ID, Mataram - Lebaran Topat di Pulau Lombok merupakan tradisi khas masyarakat Sasak yang dirayakan sekitar tujuh hari setelah Idulfitri. Momen ini identik dengan kegiatan berkumpul, berdoa, hingga makan bersama keluarga di ruang terbuka seperti pantai atau halaman rumah.
Dalam perayaan ini, ketupat menjadi sajian utama, namun kehadiran jajan bantal selalu melengkapi hidangan dan menambah kehangatan suasana kebersamaan. Tradisi Lebaran Topat juga dikenal sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah yang dilestarikan dan dipromosikan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai daya tarik wisata budaya.
Jajan bantal, yang di kalangan masyarakat lokal juga dikenal dengan sebutan tekel, merupakan jajanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang dibungkus menggunakan janur atau daun kelapa muda, lalu dibentuk memanjang menyerupai bantal kecil. Penamaan tekel biasanya digunakan secara lisan oleh masyarakat setempat, menandakan kedekatan kuliner ini dengan kehidupan sehari-hari. Ciri khas bentuk dan cara pembuatannya membuat jajan ini mudah dikenali sekaligus menjadi bagian penting dalam sajian tradisional Lombok.
Dalam praktiknya, jajan bantal atau tekel biasanya dimasak bersamaan dengan ketupat dalam satu rebusan besar. Proses ini tidak hanya efisien, tetapi juga menghasilkan aroma khas dari janur yang meresap ke dalam ketan. Menurut informasi kuliner daerah yang dihimpun oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat, penggunaan janur dalam makanan tradisional memiliki nilai simbolis sebagai lambang kesederhanaan dan kesucian dalam budaya masyarakat Sasak.
Bahan untuk membuat jajan bantal tergolong sederhana dan mudah ditemukan. Beras ketan menjadi bahan utama yang kemudian dicampur dengan kelapa parut, gula pasir, serta sedikit garam untuk menyeimbangkan rasa. Pisang umumnya digunakan sebagai isian karena memberikan rasa manis alami dan tekstur lembut saat matang.
Proses pembuatannya dimulai dari merendam ketan agar lebih pulen, lalu mencampurnya dengan bahan lain sebelum dimasukkan ke dalam janur. Setelah diberi isian, adonan dibungkus rapat dan direbus selama beberapa jam hingga matang sempurna. Cara ini masih dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat.
| Baca juga: Ini Sejarah Cupcake Manis yang Legendaris |
Selain pisang, jajan bantal juga memiliki variasi isi yang berkembang sesuai selera masyarakat. Beberapa di antaranya menggunakan kacang merah, kacang putih, atau bahkan tanpa isian. Variasi ini menghadirkan rasa yang beragam, namun tetap mempertahankan karakter lembut dan kenyal yang menjadi ciri khasnya.
Lebih dari sekadar makanan, jajan bantal atau tekel mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang kuat. Proses memasaknya yang dilakukan bersamaan dengan ketupat menjadi simbol kebersamaan dalam menyiapkan hidangan untuk keluarga dan lingkungan sekitar. Nilai ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya lokal yang terus didukung oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari identitas masyarakat Lombok.
Keberadaan jajan bantal hingga kini menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman. Tidak hanya sebagai pelengkap sajian Lebaran Topat, tetapi juga sebagai simbol warisan budaya yang terus dijaga. Dengan rasa yang khas dan makna yang mendalam, jajan bantal atau tekel menjadi bukti bahwa tradisi sederhana mampu menghadirkan kebersamaan yang hangat dan berkesan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....