Kolaborasi Pemkab dan Masyarakat, Antar Dompu Raih Status Bebas Malaria

  • 18 Jun 2026 10:01 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu — Upaya Pemerintah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, dalam mengeliminasi malaria dari bumi Nggahi Rawi Pahu membuahkan hasil. Keberhasilan ini disebut tidak lepas dari kerja sama dan kolaborasi yang baik antara pemerintah daerah dengan masyarakat dalam menjaga lingkungan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Arifudin, mengatakan bahwa selama bertahun-tahun Kabupaten Dompu dikenal sebagai daerah endemis malaria.

“Bahwa malaria di Dompu ini dulu menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Bahkan ada beberapa wilayah yang menjadi kantong endemis,” ujarnya, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menjelaskan, terdapat tiga wilayah yang selama ini menjadi kantong endemis malaria, yakni Kecamatan Pekat, Kilo, dan Hu’u. Namun berkat berbagai langkah penanganan yang dilakukan secara terpadu dengan melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) serta partisipasi masyarakat, kini ketiga wilayah tersebut berhasil mencatat nol kasus malaria.

Arifudin mencontohkan, saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria pada tahun 2009, pihak Dinas Kesehatan bersama Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Dompu melakukan langkah eliminasi dengan menebar ikan nila di sejumlah lagoon sebagai upaya memutus perkembangbiakan jentik nyamuk.

“Langkah itu cukup efektif karena ikan nila membantu memangsa jentik nyamuk di area genangan air, sehingga populasi nyamuk dapat ditekan,” jelasnya.

Menurut Arifudin, penetapan Dompu sebagai daerah bebas malaria didasarkan pada metode evaluasi selama tiga tahun terakhir, di mana tidak ditemukan lagi kasus gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit malaria.

Selain itu, kampanye Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang terus digalakkan dan diikuti masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan eliminasi penyakit tersebut.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa ancaman malaria masih tetap ada, terutama dari kasus mutasi atau kasus impor, yakni pendatang maupun warga Dompu yang baru kembali dari daerah endemis malaria.

“Untuk kasus seperti ini, petugas kesehatan harus lebih sigap melakukan deteksi dan penanganan cepat. Jangan sampai orang yang terpapar kemudian menjadi sumber penularan baru di daerah kita,” tegasnya.

Dengan metode pengendalian yang sudah terbukti efektif serta kesiapan masyarakat dalam menjaga lingkungan, Arifudin optimistis malaria tidak akan kembali masuk ke wilayah Dompu.

“Dengan kolaborasi yang terus terjaga dan kesadaran masyarakat yang semakin baik, angka risiko penularan malaria di Dompu kini sudah kurang dari lima persen,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....