Gelas Kayu Songga, Warisan Herbal Khas Dompu yang Tembus Pasar Nasional
- 12 Jul 2026 16:54 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu – Kayu Songga atau Bidara Laut (Strychnos ligustrina) merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang telah lama dikenal masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya Kabupaten Dompu.
Tumbuh liar di kawasan hutan, kayu ini dipercaya memiliki berbagai khasiat kesehatan sehingga dimanfaatkan secara turun-temurun sebagai bahan pengobatan tradisional.
Masyarakat mengenal Kayu Songga karena cita rasanya yang sangat pahit. Potongan batang maupun rantingnya biasa direndam dalam air hangat, kemudian air seduhannya diminum sebagai obat tradisional.
Secara turun-temurun, tanaman ini diyakini membantu mengatasi berbagai keluhan, mulai dari malaria, diabetes, demam hingga pegal-pegal setelah bekerja.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Dompu menghadirkan cara yang lebih praktis dalam memanfaatkan khasiat Kayu Songga. Batang kayu tersebut diolah menjadi gelas minum yang dapat digunakan berulang kali sebagai media penyeduhan air herbal.
Industri rumahan pembuat gelas Kayu Songga pun berkembang di Kabupaten Dompu. Salah satunya ditekuni Amiruddin, perajin asal Kelurahan Dorotangga, Kecamatan Dompu, yang telah menggeluti usaha tersebut selama puluhan tahun.
Amiruddin mengaku usahanya mampu bertahan karena permintaan pasar yang terus ada. Bahkan, produk buatannya kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jakarta.
"Bahkan beberapa kali, kami mengirim ke Malaysia dan Singapura," ujarnya, Minggu, 12 Juli 2026.
Dalam sehari, Amiruddin memproduksi dua jenis gelas Kayu Songga. Gelas berukuran kecil dengan tinggi sekitar 10 sentimeter dijual secara grosir seharga Rp4.000 per buah, sedangkan ukuran yang lebih besar dijual Rp6.000 per buah. Untuk penjualan eceran, tiga gelas dibanderol sekitar Rp50 ribu.
Menurutnya, sebagian besar pembeli merupakan wisatawan maupun warga Dompu yang ingin membawa pulang oleh-oleh khas daerah. Gelas Kayu Songga juga sering dijadikan buah tangan bagi kerabat di luar daerah karena memiliki nilai budaya sekaligus manfaat kesehatan.
Khasiat utama Kayu Songga berasal dari senyawa alami yang terkandung di dalam serat kayunya. Air hasil seduhan memiliki rasa pahit yang cukup kuat dan biasanya meninggalkan sensasi pahit di tenggorokan.
Bagi orang yang baru pertama kali mencobanya, rasa tersebut mungkin terasa cukup mengejutkan. Namun bagi masyarakat Dompu, khususnya petani dan pekerja lapangan, air seduhan Kayu Songga telah lama dipercaya membantu menjaga kebugaran tubuh, mengurangi pegal-pegal, mencegah malaria, serta meningkatkan nafsu makan.
Untuk mengurangi rasa pahit, sebagian warga biasanya menyiapkan gula pasir atau beras ketan sebagai penawar setelah meminum air seduhan tersebut.
Melalui inovasi gelas Kayu Songga, cara mengonsumsi ramuan herbal ini menjadi lebih praktis. Pengguna cukup menuangkan air hangat ke dalam gelas, kemudian mendiamkannya selama sekitar tiga menit hingga sari kayu larut ke dalam air sebelum diminum.
Menurut Amiruddin, penyeduhan sebaiknya menggunakan air hangat, bukan air yang mendidih. Selain mengurangi risiko gelas retak, penggunaan air hangat juga membuat sari kayu lebih mudah meresap secara bertahap.
Apabila rasa pahit mulai berkurang setelah digunakan dalam waktu lama, bagian dalam gelas dapat dikikis tipis sehingga muncul lapisan kayu baru yang kembali menghasilkan cita rasa pahit khas Kayu Songga.
Di tengah berkembangnya pengobatan modern, keberadaan gelas Kayu Songga menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat Dompu tetap bertahan.
Tidak hanya bernilai ekonomi bagi para perajin, produk ini juga menjadi identitas daerah sekaligus oleh-oleh khas yang memperkenalkan kekayaan tanaman herbal Dompu kepada masyarakat Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....