Dinkes KSB Bentuk Tim Khusus Kejar Stunting di Sekolah

  • 10 Jun 2026 15:28 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa Barat - Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat (Dinkes KSB) mempercepat upaya penurunan angka stunting pada anak usia sekolah dan remaja, melalui penguatan layanan skrining kesehatan di satuan pendidikan. Langkah ini ditempuh dengan menyiapkan tim khusus lintas profesi, serta penataan ulang sumber daya manusia kesehatan di lapangan.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Rencana Kebutuhan (Renbut) Sumber Daya Manusia Kesehatan tahun 2026, yang dirancang untuk memastikan tenaga kesehatan lebih fokus menjalankan tugas sesuai program, tanpa terbebani rangkap jabatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan KSB, dr. Carlof Sitompul, M.MRS., M.QM, mengatakan penataan ulang beban kerja tenaga kesehatan menjadi kebutuhan mendesak. Agar program deteksi dini stunting di sekolah dapat berjalan optimal dan menghasilkan data yang akurat.

“Pemegang program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) harus benar-benar fokus pada tugasnya. Mereka tidak boleh lagi merangkap pekerjaan klinis lain agar layanan di lapangan lebih maksimal,” ujar dr. Carlof, Rabu 10 Juni 2026.

Untuk mendukung efektivitas pemeriksaan, Dinkes KSB mengadopsi standar Kementerian Kesehatan dengan membentuk tim skrining kesehatan lintas profesi. Setiap tim idealnya terdiri dari empat hingga lima tenaga kesehatan dengan kompetensi berbeda.

Dalam struktur tersebut, dokter umum dan dokter gigi bertugas melakukan pemeriksaan kesehatan umum, termasuk tekanan darah serta kesehatan gigi dan mulut peserta didik. Sementara itu, tenaga gizi berperan dalam pengukuran antropometri seperti tinggi dan berat badan serta perhitungan indeks massa tubuh (IMT) untuk mendeteksi risiko stunting dan gizi buruk.

Adapun tenaga promosi kesehatan dan sanitarian bertugas melakukan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekaligus menilai kondisi lingkungan sekolah sebagai faktor pendukung kesehatan siswa.

Dengan pola kerja kolaboratif tersebut, satu tim ditargetkan mampu melakukan skrining terhadap sekitar 100 siswa setiap hari.

Dinkes KSB mencatat, tantangan utama dalam pelaksanaan program ini adalah luasnya cakupan wilayah dan jumlah sasaran yang besar. Tercatat sekitar 27.500 siswa di Kabupaten Sumbawa Barat menjadi target pemeriksaan kesehatan dalam program tersebut.

Jika menggunakan formasi tenaga kesehatan yang ada saat ini, diperlukan waktu sedikitnya 275 hari kerja untuk menyelesaikan seluruh sasaran. Kondisi ini mendorong Dinkes KSB melakukan percepatan melalui penguatan kapasitas dan penambahan personel di lapangan.

Selain itu, Dinkes KSB juga telah menggelar bimbingan teknis (bimtek) intensif bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI. Guna meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, yang terlibat dalam program skrining.

“Melalui Kemenkes dan Dinkes, kapasitas tenaga kesehatan sudah diperkuat melalui bimtek. Selanjutnya melalui Renbut 2026, kita akan mengatur kebutuhan jumlah dan penempatan personel agar lebih efektif di lapangan,” kata dr. Carlof.

Ia menegaskan, percepatan skrining kesehatan di sekolah merupakan bagian dari investasi jangka panjang pemerintah daerah dalam mencetak generasi yang sehat dan berkualitas.

Menurutnya, penanganan stunting tidak hanya berfokus pada aspek pengobatan, tetapi juga pada deteksi dini, pencegahan, dan intervensi sejak usia sekolah.

“Akselerasi skrining ini adalah investasi besar daerah untuk mencetak generasi emas Sumbawa Barat yang bebas stunting,” ujarnya.

Pihaknya berharap, penguatan sistem kerja dan penambahan tenaga kesehatan ini dapat mempercepat capaian target penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak dan remaja di daerah tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....