Akademisi UIN Mataram Soroti Penyebab Gangguan Mental Remaja

  • 18 Sep 2025 02:43 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Data Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Oktober 2024 mencatat sebanyak 2.836 kasus gangguan mental pada remaja usia 15–18 tahun. Data ini diperoleh melalui proses skrining aplikasi SIMKESWA, dan menunjukkan adanya tren peningkatan kasus gangguan mental pada generasi muda, terutama di kalangan Gen Z yang hidup dalam tekanan era digital dan media sosial yang terus berubah secara dinamis, serta perubahan sosial yang multidimensional.

Fenomena ini menjadi perhatian serius berbagai kalangan, termasuk akademisi. Salah satunya adalah Hj. Athik Hidyatul Ummah, M. Pd., M.Si., Akademisi Psikologi Pendidikan UIN Mataram, yang menilai bahwa gangguan mental pada remaja di NTB merupakan masalah yang bersifat multidimensional, tidak hanya dipicu oleh media sosial, tetapi juga oleh lemahnya mekanisme pengelolaan stres, kurangnya pendampingan psikologis, dan minimnya akses terhadap layanan kesehatan mental, terutama di wilayah rural.

“Masalah kesehatan mental remaja hari ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi sudah menjangkau wilayah pedesaan. Hal ini menjadi bukti bahwa gangguan mental adalah persoalan serius yang melibatkan banyak faktor, mulai dari tekanan hidup, pengaruh media, sampai minimnya literasi psikologis,” jelas Athik, saat diwawancarai, Rabu (17/9/2025).

Ia menyoroti bahwa salah satu penyebabnya adalah ketidakmampuan remaja dalam menyaring arus informasi dari media sosial, yang sering kali bersifat mengkhawatirkan dan tidak kontekstual dengan kehidupan mereka. Informasi ini dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi jika tidak ditangani dengan mekanisme psikologis yang tepat.

“Media sosial bisa jadi sumber stres jika tidak difilter. Anak muda hari ini kerap merasa tertekan oleh informasi yang tidak relevan dengan hidupnya. Mereka merasa dekat dengan isu-isu berat, padahal belum tentu itu menyangkut dirinya secara langsung,” tambahnya.

Athik menekankan pentingnya penguatan mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) pada remaja, mulai dari mengenali kondisi diri, hingga memberi afirmasi positif dan penghargaan atas pencapaian kecil. Namun, jika upaya mandiri tidak cukup, maka remaja harus diarahkan untuk mengakses layanan profesional, seperti konselor sekolah, psikolog, atau tenaga kesehatan mental lainnya.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah masih terbatasnya akses layanan kesehatan mental di daerah rural/desa, sementara mayoritas program dan fasilitas masih terpusat di kota-kota besar. Hal ini menyebabkan banyak remaja di daerah kurang mendapatkan perhatian, pendampingan, maupun edukasi terkait pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Seringkali perhatian hanya fokus ke remaja di kota, padahal remaja di desa juga menghadapi tekanan. Mereka pun kerap mengalami keterbatasan akses ke layanan konseling, belum lagi stigma terhadap kesehatan mental yang masih tinggi,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mendorong agar pemerintah dan institusi pendidikan tidak hanya meningkatkan penyediaan layanan kesehatan mental yang merata, tetapi juga melakukan sosialisasi dan edukasi literasi kesehatan mental secara masif, khususnya di kalangan remaja pedesaan yang lebih rentan secara sosial dan ekonomi.

Lebih jauh, Athik mengingatkan bahwa penanganan masalah ini tidak bisa diserahkan hanya pada individu atau pemerintah, melainkan harus melibatkan peran aktif keluarga, guru, serta masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang suportif bagi kesehatan mental remaja.

“Kesehatan mental adalah bagian dari kesejahteraan hidup yang tidak bisa dipisahkan dari kesehatan fisik. Kita perlu mengubah cara pandang masyarakat, bahwa mencari bantuan itu bukan tanda kelemahan, tapi langkah penting untuk bertumbuh sehat,” pungkasnya.

Dengan jumlah kasus yang terus meningkat, NTB dihadapkan pada urgensi untuk memperluas jangkauan pelayanan dan edukasi psikologis ke seluruh pelosok daerah. Generasi muda yang sehat mental adalah aset masa depan yang harus dijaga bersama.

Penulis: Dian Ferdinawan Mahasiswa PKL UIN Mataram di RRI Mataram.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....