Unram Dampingi Perajin Sukarara Kembangkan Pewarna Alami

  • 19 Sep 2026 21:03 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Universitas Mataram mendampingi Kelompok Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, untuk mengembangkan pewarna alami berbasis tumbuhan lokal.
  • Variasi secang, soga, dan ketapang serta penggunaan tunjung, kapur, dan tawas menghasilkan karakter warna yang berbeda.

RRI.CO.ID, ‎Lombok Tengah - Universitas Mataram (Unram) mendampingi Kelompok Mina Tenun di Dusun Ketangga, Desa Sukarara, Lombok Tengah, mengembangkan pewarna alami untuk memperkaya warna kain tenun sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.

‎Pendampingan dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Kimia Unram melalui kegiatan bertajuk Diversifikasi Warna Tenun Katun Berbasis Pewarna Alami Lokal melalui Variasi Fiksator untuk Meningkatkan Kualitas dan Nilai Ekonomi Kelompok Mina Tenun pada 30 Juni 2026.

Anggota Kelompok Mina Tenun melakukan praktik pewarnaan kain menggunakan bahan pewarna alami dan variasi fiksator. (Foto: RRI/Tim Pengabdian Unram)

‎Sekitar 15 anggota Kelompok Mina Tenun mengikuti sosialisasi dan praktik langsung pengolahan pewarna alami. Mereka diperkenalkan dengan berbagai sumber pewarna, teknik ekstraksi, proses pewarnaan, hingga penggunaan fiksator.

‎Dalam praktiknya, peserta menggunakan kulit batang secang, kulit batang soga, dan daun ketapang. Ketiga bahan tersebut menghasilkan karakter warna yang berbeda dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

‎Peserta juga mencoba tiga jenis fiksator, yakni tunjung, kapur, dan tawas. Hasil praktik menunjukkan tunjung cenderung menghasilkan warna lebih gelap, kapur menghasilkan warna merah hingga oranye, sedangkan tawas memberikan warna lebih cerah atau relatif mempertahankan warna dasar kain.

‎Dari pengujian ketahanan luntur, tunjung menunjukkan hasil paling baik dibandingkan fiksator lainnya. Namun, penggunaannya perlu disesuaikan karena dapat membuat warna dasar kain menjadi lebih gelap.

‎Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unram, Baiq Ike Nursofia, mengatakan pendampingan tidak hanya ditujukan agar kelompok mengenal jenis pewarna alami, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri.

‎"Kami ingin teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dipahami dan diterapkan oleh kelompok Mina Tenun secara mandiri. Melalui variasi pewarna alami dan fiksator, kelompok dapat mengeksplorasi lebih banyak karakter warna sesuai kebutuhan produk," kata Baiq Ike, Sabtu, 19 September 2026.

‎Salah satu anggota Kelompok Mina Tenun, Sumarni, menilai praktik langsung membantu anggota memahami pengaruh bahan pewarna dan fiksator terhadap warna kain.

‎"Setelah mengikuti sosialisasi dan praktik, kami lebih memahami bahwa bahan pewarna yang berbeda dan fiksator yang digunakan dapat menghasilkan warna yang berbeda. Ini menjadi tambahan pengetahuan bagi kami untuk mencoba variasi warna lain pada produk yang kami buat," ujar Sumarni.

‎Selain memperkaya pilihan warna, pemanfaatan tumbuhan lokal dinilai dapat memberi identitas tersendiri pada produk tenun Sukarara. Bahan pewarna juga dapat diolah dalam bentuk bubuk atau potongan kecil sehingga lebih mudah disimpan dan digunakan kembali.

‎Unram berharap pendampingan tersebut mendorong Kelompok Mina Tenun terus mengeksplorasi sumber pewarna lokal dan menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

‎Pengembangan pewarna alami ini juga diarahkan untuk mendukung produksi yang lebih ramah lingkungan serta peningkatan nilai ekonomi masyarakat, sejalan dengan SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan serta SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

‎Kegiatan pengabdian ini mendapat dukungan pendanaan PNBP Universitas Mataram. Tim juga menyampaikan apresiasi kepada Program Studi Kimia Universitas Mataram dan Kelompok Mina Tenun Desa Sukarara atas dukungan serta partisipasi aktif selama kegiatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....