Cegah Pernikahan Dini, SMAN 3 Mataram Perkuat Pengawasan Siswa

  • 10 Sep 2026 10:33 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pencegahan pernikahan dini di SMAN 3 Mataram dilakukan dengan pendekatan yang lebih proaktif. Pihak sekolah tidak menunggu sampai persoalan muncul, tetapi berupaya membaca perubahan perilaku siswa dan segera melibatkan orang tua ketika ditemukan tanda-tanda yang dinilai perlu mendapat perhatian.

Kepala SMAN 3 Mataram, Yuspita Martiningrum, mengatakan langkah tersebut penting karena persoalan yang mendorong terjadinya pernikahan dini dapat berawal dari pergaulan siswa. Karena itu, sekolah melakukan pemantauan sekaligus membangun komunikasi dengan keluarga.

“Kalau sudah terindikasi anak ini sudah mulai agak bebas pergaulannya, cepat kita panggil orang tuanya, cepat kita panggil anaknya. Agar kita sama-sama betul-betul memperhatikan tindak-tanduknya,” jelasnya, Kamis 10 September 2026.

Ia mencontohkan, sekolah pernah memanggil sejumlah siswa bersama orang tua setelah melihat adanya tanda-tanda hubungan berpacaran di antara siswa. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar persoalan tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.

“Jadi sebelum terjadi, kita harus proaktif untuk memanggil. Kita menasihati, jangan sampai terjadi kejadian yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Yuspita menyebut salah satu faktor yang perlu menjadi perhatian dalam persoalan pernikahan dini adalah pergaulan bebas.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan, termasuk kehamilan sebelum menikah.

“Memang kan itu tidak jauh, kadang-kadang penyebabnya adalah pergaulan bebas. Kenapa dia menikah itu karena mungkin ada faktor X,” ungkapnya.

Untuk memperkuat pencegahan, SMAN 3 Mataram tidak hanya mengandalkan guru. Sekolah secara berkala menghadirkan pihak terkait, mulai dari Dinas Kesehatan, pemerintah, BKKBN hingga narasumber yang memahami persoalan kesehatan reproduksi dan dampak pernikahan di usia muda.

“Kami juga sudah datangkan ahli bahwa kalau menikah muda itu reproduksinya akan berbahaya, juga akan mendatangkan masalah sosial bagi anak yang menikah dini," jelasnya. " Karena belum matangnya pola pikir serta ketidakpastian mata pencaharian, akan menjadi masalah tersendiri bagi anak, serta masyarakat."

Selain kegiatan edukasi, sekolah memiliki program internal seperti PIK-R dan PMR yang turut dimanfaatkan sebagai ruang pembinaan siswa. Komunikasi dengan orang tua juga diperkuat, terutama ketika sekolah menemukan perubahan perilaku atau kedisiplinan siswa.

Pemantauan dilakukan secara langsung. Siswa yang mulai menunjukkan perilaku berisiko, sering terlambat, atau memiliki tingkat ketidakhadiran yang perlu mendapat perhatian akan dipanggil bersama orang tua untuk mencari solusi.

Menurut Yuspita, konsistensi menjadi kunci dalam pencegahan. Edukasi yang hanya dilakukan sekali dalam setahun dinilai belum cukup untuk membangun kesadaran siswa.

“Kalau terus-menerus harus pasti efektif. Tetapi kalau hanya sekadar sekali setahun datangkan ahli atau narasumber terkait itu ya kurang,” ucapnya.

Karena itu, SMAN 3 Mataram berupaya menjadikan pencegahan sebagai bagian dari pembinaan sehari-hari. Sekolah menilai persoalan pernikahan dini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada satu pihak, melainkan membutuhkan keterlibatan sekolah, keluarga dan lingkungan sekitar.

“Kalau diserahkan ke sekolah semua tidak bisa. Jadi kita harus bersinergi dan saling membantu untuk mencegah fenomena itu,” katanya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....