Cegah Stunting, UBG dan Kader Posyandu Olah Ikan Tongkol-Talas jadi Kroket
- 16 Sep 2026 14:41 WIB
- Mataram
Poin Utama
- UBG bersama kader Posyandu Desa Teros mengolah ikan tongkol dan talas menjadi kroket sebagai PMT untuk 30 balita stunting selama 14 hari.
- Kegiatan ini juga meningkatkan pengetahuan kader tentang gizi, pengolahan pangan lokal, higiene, sanitasi, dan pengukuran antropometri.
RRI.CO.ID, Lombok Timur - Ikan tongkol dan talas disulap menjadi kroket untuk makanan tambahan balita stunting di Desa Teros, Lombok Timur, NTB. Inovasi pangan lokal ini digagas Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Gizi Universitas Bumigora (UBG) bersama kader posyandu.
Kegiatan yang berlangsung 20 Juni-25 Juli 2026 itu melibatkan 20 kader posyandu dan 30 balita stunting di Posyandu Desa Teros, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur. Tim PKM dipimpin Laksmi Nur Fajriani, bersama Ni Made Wiasty Sukanty, S.Tr.Kes., M.Biomed, M. Thonthowi Jauhari, S.Gz., M.Gz, serta mahasiswa Karunia Sufi Asparin, Mutiara Firman Alwan dan Try Rosmawati.

Laksmi mengatakan ikan tongkol dipilih sebagai sumber protein hewani, sedangkan talas merupakan pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat. Keduanya kemudian diolah menjadi kroket agar lebih menarik sebagai makanan tambahan untuk balita.
“Melalui kegiatan ini, kami mencoba melakukan diversifikasi pangan lokal menjadi produk yang lebih menarik dan dapat dimanfaatkan sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT), yaitu kroket ikan tongkol dan talas,” kata Laksmi, Rabu, 16 September 2026.
Sebelum praktik, para kader mendapat edukasi tentang gizi seimbang, stunting, pembuatan PMT dan pengukuran antropometri. Hasil pretest dan posttest menunjukkan pengetahuan 80 persen kader mengalami peningkatan.
Para kader kemudian mempraktikkan langsung pembuatan kroket, mulai dari menyiapkan bahan hingga memasak. Mereka juga mendapat materi higiene dan sanitasi untuk memastikan makanan yang diberikan kepada balita aman.
Kroket ikan tongkol-talas kemudian diberikan kepada 30 balita stunting selama 14 hari. Pengukuran antropometri dilakukan sebelum dan sesudah pemberian PMT untuk melihat perubahan pertumbuhan.
Hasil pengukuran menunjukkan berat badan balita mengalami peningkatan, meski relatif kecil. Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan kader dalam memantau pertumbuhan balita melalui pengukuran antropometri.
Ketua Kader Posyandu Desa Teros, Istiharah mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi kader, terutama dalam mengolah pangan lokal menjadi makanan tambahan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai kader. Sebelumnya, kami belum banyak mengetahui bagaimana cara mengolah ikan tongkol dan talas menjadi makanan tambahan yang menarik dan bergizi untuk balita,” ujarnya.
Menurutnya, praktik langsung membuat kader lebih memahami cara mengolah bahan pangan lokal menjadi PMT yang dapat diterapkan kembali di posyandu maupun di rumah.
Tim UBG berharap inovasi tersebut tidak berhenti selama program berlangsung. Kader diharapkan dapat menerapkan keterampilan pengolahan pangan lokal, higiene, sanitasi, serta pengukuran antropometri dalam kegiatan posyandu.
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Bumigora, Pemerintah Desa Teros, kader posyandu, masyarakat, serta keluarga balita atas dukungan dan partisipasinya. Kolaborasi ini diharapkan dapat terus berlanjut dalam mendukung pemanfaatan pangan lokal, peningkatan kapasitas kader, dan upaya pencegahan serta penanganan stunting di Desa Teros.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....