Cegah Perundungan, SMPN 9 Mataram Perkuat Pendidikan Agama

  • 07 Sep 2026 15:45 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Salam, senyum dan sapa menjadi kebiasaan yang terus dibangun SMPN 9 Mataram dalam membentuk karakter peserta didik. Guru secara bergiliran menyambut siswa di pintu gerbang sebelum kegiatan belajar dimulai.

Kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih ramah sekaligus mencegah munculnya perundungan di kalangan siswa.

Kepala SMPN 9 Mataram, H. Akhmad Pahrurazi, mengatakan penguatan karakter tidak cukup dilakukan melalui aturan sekolah, tetapi harus dibangun melalui pembiasaan dan kegiatan keagamaan.

“Kerja sama di sini sangat-sangat kita butuhkan dalam membina kegiatan keagamaan demi perbaikan akhlak supaya lebih bagus dan berharap kegiatan bullying dan perundungan itu bisa berkurang,” jelasnya, Senin 7 September 2026.

Untuk siswa Muslim, pembinaan dilakukan melalui kegiatan Imtak serta pembacaan Al-Qur'an setiap Jumat. Sekolah bahkan menargetkan kegiatan tersebut dapat mengantarkan siswa menyelesaikan bacaan Al-Qur'an hingga khatam.

“Setiap hari Jumat kita ada kegiatan membaca Al-Qur'an. Kita berharap anak-anak ini bisa khatam, bukan hanya sekadar membaca tetapi benar-benar selesai 30 juz,” ungkapnya.

Kegiatan serupa juga melibatkan para guru. Sekitar 30 guru Muslim mengikuti komunitas pembacaan Al-Qur'an secara rutin setiap pekan dengan sistem pelaporan bacaan hingga seluruh 30 juz dapat diselesaikan.

Sementara siswa Hindu dan Kristen tetap diberikan ruang untuk melaksanakan ibadah sesuai agama masing-masing. Sekolah menyiapkan tempat ibadah sehingga seluruh siswa tetap dapat menjalankan kegiatan keagamaan dengan nyaman.

Selain pembinaan internal, SMPN 9 Mataram menggandeng sejumlah lembaga untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bahaya kekerasan, narkoba dan persoalan sosial lainnya.

“Kita juga rutin mengundang kepolisian, BNN dan DP3A untuk memberikan sosialisasi dan pembinaan kepada anak-anak,” ujarnya.

Pahrurazi mengatakan pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil. Menurutnya, kasus bullying maupun kekerasan di lingkungan sekolah saat ini sudah berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, bullying atau perkelahian itu sudah jauh berkurang. Tapi tetap harus kita awasi dan semua guru harus terlibat,” katanya, menegaskan.

Sekolah sebelumnya telah memiliki satgas penanganan bullying. Namun, struktur tersebut belum diperbarui setelah ketua sebelumnya memasuki masa pensiun. Untuk sementara, pengawasan terhadap perilaku siswa tetap dilakukan melalui keterlibatan seluruh guru dan unsur sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....