AJI Mataram Biro Bima Dorong Jurnalis Adaptif Hadapi Era AI
- 31 Agt 2026 07:07 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Bima - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya menawarkan kemudahan dalam pekerjaan jurnalistik, tetapi juga menghadirkan tantangan serius yang harus diantisipasi para jurnalis. Terkhusus jurnalis yang ada di Bima Nusa Tenggara Barat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital serta semakin ketatnya persaingan dengan konten yang diproduksi pengguna media sosial, jurnalis dituntut mampu beradaptasi dengan AI tanpa kehilangan jati diri, etika, independensi, serta prinsip-prinsip jurnalisme berkualitas kala membuat karya.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram Biro Bima dengan tema "Optimalisasi AI dalam Kerja Jurnalistik. Kegiatan tersebut berlangsung Minggu 30 Agustus 2026, di Tuk-Tuk Coffee, Bima, Kota Bima.
Dalam acara tersebut, Aji Mataram Biro Bima menghadirkan Susi Gustiana, seorang jurnalis perempuan, sebagai pemateri. Kegiatan ini diikuti para jurnalis di Bima, penggiat konten kreator, Persma, mahasiswa dan lainnya.
Agenda ini sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pemanfaatan AI dalam menunjang pekerjaan jurnalistik.
Mulai dari membantu proses riset, mengolah informasi, menyusun bahan berita hingga mendukung produksi konten media sosial, AI dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja jurnalis.
Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu dan bukan pengganti kemampuan jurnalistik.
Susi Gustiana mengatakan, penggunaan AI saat ini sudah menjadi sesuatu yang familiar di kalangan jurnalis. Pembahasan mengenai AI bahkan semakin sering muncul dalam berbagai forum yang membicarakan masa depan profesi jurnalistik.
Menurutnya, perkembangan AI merupakan bagian dari transformasi yang tidak dapat dihindari. Karena itu, jurnalis harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.
"AI sudah familiar. AI memang sering dibahas dalam berbagai kegiatan. Kami juga pernah membahas bersama Dewan Pers mengenai tantangan profesi jurnalis terhadap transformasi AI. Mau tidak mau kita harus beradaptasi. Kalau tidak beradaptasi, kita akan tertinggal," ujar Susi.
Meski demikian, Susi mengingatkan bahwa kemudahan yang ditawarkan AI tidak boleh membuat jurnalis mengabaikan proses jurnalistik. Salah satu persoalan yang harus diwaspadai adalah halusinasi AI, ketika teknologi menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya tidak benar, tidak lengkap atau tidak memiliki dasar fakta yang kuat.
Karena itu, setiap informasi yang diperoleh melalui AI tetap harus diperiksa dan diverifikasi sebelum digunakan dalam produk jurnalistik.
"Risiko yang harus selalu diperiksa dan diverifikasi ulang dari penggunaan AI adalah faktor halusinasi," katanya.
Selain persoalan akurasi, kualitas hasil yang diberikan AI juga sangat bergantung pada instruksi atau prompt yang diberikan penggunanya.
Menurut Susi, instruksi yang tidak jelas atau kurang tepat dapat menghasilkan keluaran yang buruk sehingga tidak memberikan manfaat bagi pekerjaan jurnalis.
"Kalau instruksinya buruk, output yang dihasilkan AI juga bisa buruk dan tidak berguna," jelasnya.
Oleh karena itu, kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan mengetahui cara mengoperasikan teknologi tersebut. Jurnalis juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menilai, menguji dan memastikan kebenaran setiap informasi yang dihasilkan.
Dalam konteks jurnalistik, proses wawancara, observasi lapangan, pengumpulan data, konfirmasi kepada sumber, cross check dan verifikasi tetap menjadi bagian penting yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh teknologi.
Dalam kesempatan itu, Sekretaris Umum AJI Mataram itu menyoroti persoalan kualitas karya jurnalistik di tengah kemudahan teknologi. Menurutnya, dalam pekerjaan sehari-hari, terutama untuk berita langsung atau straight news, AI dapat memberikan banyak kemudahan bagi jurnalis.
Teknologi tersebut dapat membantu mempercepat pekerjaan teknis sehingga jurnalis memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan karya yang lebih berkualitas.
Namun, untuk liputan mendalam, investigasi dan karya jurnalistik yang membutuhkan proses panjang, AI tidak boleh mengambil alih peran utama jurnalis.
"Dalam liputan membuat berita, kita banyak yang melupakan kualitas. Dalam liputan sehari-hari, ketika kita bermain di straight news, AI memang sangat membantu. Tetapi kalau kita bermain di kualitas, seperti liputan-liputan mendalam, AI harus menjadi alat bantu, bukan pemeran utama," ucapnya menegaskan.
Kata dia, tantangan jurnalisme saat ini juga semakin besar karena persaingan tidak hanya terjadi antarmedia. Jurnalis kini harus berhadapan dengan derasnya arus informasi dari akun media sosial pribadi dan berbagai platform digital.
Setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi dengan cepat. Kondisi tersebut membuat media dan jurnalis profesional harus memiliki pembeda yang kuat.
Jurnalis tidak cukup hanya menjadi pihak yang paling cepat menyampaikan informasi. Lebih dari itu, jurnalis harus mampu memberikan informasi yang akurat, terverifikasi, memiliki konteks, menarik dan memberikan nilai bagi masyarakat.
"Sekarang kita mengalami persaingan dengan akun media sosial individu. Karena itu, jurnalis harus memperkuat karya yang berkualitas dan menarik," katanya.
Selain membahas penggunaan AI, diskusi juga menyinggung persoalan keamanan digital dan perlindungan data pribadi.
Salah seorang senior AJI Mataram Biro Bima, Sofyan As'ary mengingatkan para jurnalis agar tidak sembarangan membagikan data pribadi di media sosial.
Menurutnya, semakin banyak informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka di ruang digital, semakin besar pula potensi data tersebut dimanfaatkan atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ia mencontohkan kebiasaan sebagian pengguna media sosial yang mencantumkan informasi pribadi, seperti nama ibu kandung dan data lainnya.
Informasi yang dianggap sederhana tersebut, kata dia, pada kondisi tertentu dapat menjadi bagian dari data yang digunakan untuk melakukan verifikasi identitas maupun mengakses layanan tertentu.
"Secara personal, kita harus memperhatikan keamanan. Semakin banyak kita mengumbar data pribadi di media sosial, potensi orang kemudian menyalahgunakan data kita juga semakin besar," tutur Sofyan.
Karena itu, menurut Sofyan, kesadaran terhadap keamanan digital harus menjadi bagian dari kehidupan profesional seorang jurnalis.
Jurnalis tidak hanya dituntut mampu mencari dan mengolah informasi, tetapi juga harus mampu menjaga keamanan data pribadi, data liputan, sumber informasi, akun media sosial dan berbagai dokumen yang berkaitan dengan pekerjaan jurnalistik.
Dalam diskusi tersebut, sebagian besar jurnalis yang hadir di Bima disebut telah mengetahui keberadaan dan perkembangan AI.
Kendati demikian, tidak semua jurnalis menggunakan AI dengan pola yang sama. Sebagian memilih memanfaatkannya untuk pekerjaan tertentu, sementara lainnya membatasi penggunaan AI karena mempertimbangkan persoalan akurasi, etika dan risiko ketergantungan terhadap teknologi.
Diskusi tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan AI tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai ancaman bagi profesi jurnalis.
Sebaliknya, AI dapat dimanfaatkan sebagai teknologi pendukung untuk mempercepat pekerjaan, membantu riset dan meningkatkan produktivitas, selama penggunaannya tetap berada dalam koridor etika jurnalistik.
Pada akhirnya, kualitas seorang jurnalis tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh kemampuan dalam menemukan fakta, melakukan verifikasi, menggali informasi secara mendalam dan menyajikannya secara bertanggung jawab kepada publik.
AI boleh membantu mempercepat kerja jurnalistik, tetapi fakta, verifikasi, independensi dan etika tetap menjadi fondasi utama.
Diskusi AJI Mataram Biro Bima tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong jurnalis agar tidak gagap menghadapi perubahan teknologi, tetapi justru mampu menjadikannya sebagai alat untuk memperkuat profesionalisme dan menghasilkan karya jurnalistik yang lebih berkualitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....