Peluang Kerja ke Korea Terbuka, NTB Siapkan Lulusan SMK Tembus Pasar Global
- 20 Agt 2026 15:21 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Peluang kerja bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Korea Selatan semakin terbuka. Selain sektor manufaktur dan perikanan, pemerintah mulai menjajaki penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui skema Government to Government (G2G) pada sektor pertanian, termasuk peternakan.
Peluang tersebut dinilai menarik bagi pencari kerja NTB. PMI yang berhasil ditempatkan melalui skema G2G berpotensi memperoleh penghasilan sekitar Rp26 juta per bulan. Nilai tersebut jauh di atas rata-rata upah minimum regional di NTB yang berada di kisaran Rp3,3 juta.
Selama ini, penempatan PMI ke Korea melalui skema G2G lebih banyak menyasar sektor manufaktur dan perikanan. Namun, pemerintah melihat sektor agraris memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Direktur Penempatan Pemerintah pada Direktorat Penempatan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI), Dyah Rejeningrum, mengatakan persyaratan pendidikan bagi calon pekerja relatif terbuka. Peserta minimal merupakan lulusan SMP. Meski demikian, sekitar 80 persen pendaftar selama ini berasal dari lulusan SMA.
“Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara transparan melalui sistem Sisco P2MI, yang meliputi seleksi dokumen, ujian bahasa, hingga tes fisik dan wawancara,” kata Dyah saat audiensi penjajakan supply tenaga kerja program G2G Korea sektor pertanian di Aula SMKPPN Mataram, Rabu 19 Agustus 2026.
Selain pendidikan, calon PMI harus memenuhi sejumlah persyaratan lain, seperti memiliki kemampuan bahasa Korea, kondisi fisik yang prima, tidak buta warna, serta bebas dari penyakit tuberkulosis (TBC).
Kemampuan bahasa Korea menjadi salah satu tahapan penting dalam proses seleksi. Calon pekerja wajib mengikuti ujian EPS-TOPIK (Employment Permit System-Test of Proficiency in Korea).
Peserta yang dinyatakan lulus seluruh tahapan seleksi selanjutnya masuk dalam daftar tunggu atau roster. Dari daftar tersebut, pekerja kemudian dipilih oleh pengguna jasa di Korea melalui penerbitan Standard Labor Contract (SLC).
Karena program G2G Korea dibuka setiap tahun, peluang tersebut dinilai dapat menjadi salah satu pilihan masyarakat NTB untuk meningkatkan pendapatan dan taraf ekonomi keluarga.
Terbukanya peluang kerja ke Korea turut memunculkan gagasan agar pembelajaran bahasa Korea diperkenalkan lebih dini di sekolah vokasi. Pembekalan tersebut dinilai dapat membantu siswa mempersiapkan diri sebelum memasuki pasar kerja internasional.
Dyah mengatakan, pihak Korea sangat menekankan kesiapan peserta dalam mengikuti EPS-TOPIK. Selama ini, sebagian calon pekerja baru mempelajari bahasa Korea setelah lulus sekolah melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) maupun Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP).
KemenP2MI menyambut baik gagasan penyelarasan kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri internasional. Namun, kewenangan menentukan muatan lokal tetap berada pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta pemerintah daerah melalui dinas pendidikan.
Dengan pembelajaran bahasa Korea sejak sekolah, calon pekerja diharapkan tidak perlu memulai persiapan dari nol setelah lulus, terutama siswa SMK yang sejak awal menargetkan pekerjaan di Korea.
Peluang itu mulai direspons SMKPPN Mataram. Sekolah tersebut memperkuat pembekalan bahasa asing sebagai bagian dari persiapan lulusan memasuki pasar kerja global.

Kepala SMKPPN Mataram, Sugiarta, mengatakan sekolah telah merintis peluang kerja internasional sejak sekitar empat tahun lalu. Salah satunya melalui program magang ke Jepang ketika sekolah masih berstatus SMK Unggulan.
Kini, pembekalan bahasa tidak hanya berfokus pada bahasa Inggris. SMKPPN Mataram juga mulai menambahkan bahasa Jepang dan Korea bagi siswa yang berminat bekerja di luar negeri.
Bahasa Inggris diberikan mulai kelas X hingga kelas XII. Sementara bahasa Jepang dan Korea lebih difokuskan bagi siswa kelas XI dan XII.
“Rencananya kami akan berkoordinasi untuk menyelenggarakan kelas bahasa Jepang online bekerja sama dengan salah satu LPK,” ujar Sugiarta.
Model pembelajaran hybrid dipilih karena siswa kelas XII saat ini menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama enam bulan di berbagai wilayah. Pembelajaran tatap muka akan kembali diintensifkan setelah siswa menyelesaikan PKL.
Khusus bahasa Korea, SMKPPN Mataram mulai merintis klub bahasa Korea bagi siswa kelas XI. Kegiatan tersebut dibimbing guru yang menguasai bahasa Korea dan pernah tinggal di Korea Selatan.
Meski persiapan mulai diperkuat, hingga kini belum ada lulusan SMKPPN Mataram yang berangkat ke Korea melalui skema G2G. Sekolah masih berada pada tahap membangun kesiapan siswa, terutama dari sisi kemampuan bahasa dan pemahaman budaya kerja.
“Peluang kerja di sektor perikanan Korea kini sudah terbuka lebar melalui program G2G,” kata Sugiarta.
Menurut dia, tidak semua siswa memiliki keinginan bekerja di luar negeri. Sebagian memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau membangun usaha sendiri.
Namun, bagi siswa yang memiliki tekad bekerja di luar negeri, sekolah akan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan. Pembekalan tidak hanya diarahkan pada keterampilan sesuai bidang keahlian, tetapi juga kemampuan bahasa dan kesiapan menghadapi budaya kerja internasional.
Dengan semakin luasnya sektor penempatan PMI ke Korea, peluang tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi lulusan SMK di NTB untuk memasuki pasar kerja global sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....