Biotrop Cetak Guru Penggerak Kebun Edukasi dan Konservasi

  • 31 Jul 2026 15:31 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • 37 guru dari 29 sekolah jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK di Mataram mengikuti pelatihan empat hari dalam program National GEMS yang diselenggarakan Biotrop.
  • Program National GEMS bertujuan memperkuat pemahaman guru tentang konservasi keanekaragaman hayati melalui pengembangan kebun edukasi di lingkungan sekolah.
  • Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan memperoleh pengalaman praktik yang dapat langsung diterapkan di sekolah masing-masing.

RRI.CO.ID, Mataram - Sebanyak 37 guru dari sekitar 29 sekolah jenjang SD, SMP, SMA hingga SMK mengikuti pelatihan selama empat hari dalam program National GEMS (Garden-based Education for Model Schools) yang diselenggarakan Biotrop. Program ini bertujuan memperkuat pemahaman guru tentang konservasi keanekaragaman hayati melalui pengembangan kebun edukasi di lingkungan sekolah.

Koordinator Program Biotrop, Dewi Suryani, mengatakan para peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti pelatihan. Selain memperoleh materi, para guru juga mendapatkan pengalaman praktik yang dapat langsung diterapkan di sekolah masing-masing.

"Setelah empat hari pelatihan, guru-guru sangat antusias. Mereka sudah memiliki gambaran dan pengalaman mengenai apa yang bisa dilakukan di sekolah, terutama dalam membangun kebun edukasi yang nantinya bermanfaat bagi sekolah, peserta didik, sekaligus dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain di sekitarnya," ujar Dewi, Jumat 31 Juli 2026.

Menurutnya, program National GEMS tidak hanya berfokus pada pengembangan kebun sekolah, tetapi juga memperkuat aspek konservasi biodiversitas. Hal tersebut dinilai penting mengingat kawasan geopark di Indonesia selama ini lebih banyak dikenal dari sisi pariwisatanya.

"Pariwisata memang memberikan manfaat, tetapi juga berpotensi meningkatkan eksploitasi sumber daya alam. Karena itu, aspek biodiversitas harus diperkuat sehingga konservasi dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan kawasan dan tekanan eksploitasi terhadap ekosistem dapat ditekan," katanya.

Selama pelatihan, peserta juga aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi di daerah masing-masing, salah satunya penggunaan bahan kimia secara berlebihan di lahan pertanian.

Dewi menjelaskan, pihaknya memberikan pemahaman secara teoritis mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memulihkan kondisi lahan. Ke depan, Biotrop membuka peluang melakukan pendampingan melalui survei lapangan dan analisis kondisi tanah agar solusi yang diterapkan sesuai dengan karakteristik wilayah.

"Untuk mengetahui penanganan yang tepat, tentu harus diawali dengan survei dan analisis kondisi tanah. Setelah itu baru dapat ditentukan langkah yang paling sesuai," jelasnya.

Sebagai tindak lanjut pelatihan, setiap peserta telah menyusun action plan yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Langkah awal yang diharapkan adalah menyebarluaskan hasil pelatihan kepada rekan guru dan peserta didik melalui kegiatan kokurikuler maupun muatan lokal.

"Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini pada pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Kita hidup bergantung pada alam. Teknologi, termasuk kecerdasan buatan, memang membantu pekerjaan manusia, tetapi sumber kehidupan tetap berasal dari alam yang harus kita pelihara," ujar Dewi.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi, mulai dari budidaya tanaman sayuran khas kawasan, tanaman buah, tanaman obat keluarga (TOGA), analisis vegetasi, hingga pemetaan spasial menggunakan aplikasi berbasis telepon pintar. Melalui pemetaan tersebut, guru dilatih mengenali karakteristik wilayah dan potensi vegetasi yang sesuai untuk dikembangkan.

Biotrop juga menyiapkan mekanisme evaluasi setelah pelatihan. Sekitar tiga bulan setelah kegiatan berakhir, pelaksanaan action plan di masing-masing sekolah akan dievaluasi untuk mengetahui perkembangan sekaligus kebutuhan pendampingan lanjutan.

Dalam pelaksanaannya, Biotrop bermitra dengan SMKPP Mataram yang akan mendukung pendampingan teknis di lapangan. Kemitraan tersebut telah terjalin dalam berbagai program sebelumnya, mulai dari pengembangan kebun sekolah, produksi buah, hingga pertanian perkotaan.

"SMKPP Mataram menjadi mitra strategis kami karena dapat melakukan pendampingan langsung ke sekolah-sekolah apabila dibutuhkan. Kami berharap program ini terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi pendidikan sekaligus upaya konservasi lingkungan," tutup Dewi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....