Bukan Sekadar Ganti Buku Jadi PDF, Ini Esensi Transformasi Pendidikan Era Digital
- 09 Apr 2026 07:15 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Bukan cuma ganti buku jadi PDF! SDN 23 Ampenan ungkap rahasia transformasi pendidikan digital lewat Papan Interaktif Digital tanpa buang budaya menulis tangan
RRI.CO.ID, Mataram - Transformasi pendidikan di era digital sering kali salah kaprah dianggap hanya sebatas memindahkan isi buku ke dalam format PDF. Padahal, esensinya jauh lebih dalam dari sekadar peralihan dokumen digital. Hal ini ditegaskan oleh Kepala SDN 23 Ampenan, Samsul Fahrozi, dalam dialog inspiratif "Beranda Astacita" di RRI Mataram.
Menurut Samsul, digitalisasi adalah tentang integrasi teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel dan personal, tanpa mencabut akar kegiatan konvensional yang membentuk karakter siswa.
Menepis Keresahan: Masihkah Ada Papan Tulis dan Kapur?
Tren sekolah berbasis teknologi tak jarang memicu kekhawatiran orang tua akan hilangnya kemampuan dasar anak, seperti menulis tangan. Keresahan ini muncul lewat pertanyaan kritis Pak Udin, salah satu penelepon dalam diskusi tersebut.
"Apakah sekarang guru masih mengajar berdiri di depan papan tulis? Masih pakai kapur atau semua sudah otomatis?" tanya Pak Udin mewakili kegelisahan banyak wali murid.
Samsul Fahrozi menanggapi dengan tenang bahwa teknologi justru hadir sebagai variasi agar siswa tidak bosan, bukan untuk membuang metode lama.
"Menulis tetap ada. Bahkan dengan Papan Interaktif Digital (PID), siswa bisa praktik menulis menggunakan stylus pen. Kami tidak ingin anak-anak terjebak di depan layar seharian," jelasnya.
Teknologi Sebagai Penutup Celah Realitas
Samsul memberikan ilustrasi menarik mengenai kapan teknologi harus "masuk" ke ruang kelas. Menurutnya, teknologi hanya digunakan jika ada celah yang tidak bisa dijangkau secara fisik.
"Kalau materi tentang bagian tumbuhan, kita tidak butuh teknologi; cukup ajak anak-anak ke lapangan. Tapi jika harus belajar anatomi gajah, tidak mungkin kita bawa gajah asli ke kelas. Di situlah teknologi berperan," kata Samsul.
Pemanfaatan teknologi di SDN 23 Ampenan kini telah merambah ke level manajemen dan administrasi, namun porsi menulis dan membaca tetap dijaga ketat demi menjaga kualitas karakter dasar siswa.
Tantangan Bukan Lagi Soal Alat, Tapi Pengawasan
Di akhir diskusi, Samsul mengingatkan bahwa tantangan pendidikan masa kini telah bergeser. Kini, isu utamanya bukan lagi ketersediaan perangkat, melainkan kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mengawasi penggunaan teknologi di rumah.
Ia memberikan pesan menohok bagi para orang tua agar tidak menggunakan gadget sebagai "obat penenang" atau pelarian agar anak diam. Sebaliknya, gadget harus diposisikan sebagai sarana belajar yang didampingi secara aktif agar transformasi digital ini benar-benar membawa dampak positif bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....