Literasi Digital di Era Industri 5.0: Tantangan dan Peluang Dunia Pendidikan NTB
- 07 Apr 2026 13:25 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram — Perkembangan teknologi yang kian pesat di era industri 5.0 menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi lebih cepat, khususnya dalam penguatan literasi digital. Hal ini menjadi sorotan dalam program Obrolan Beranda Astacita yang disiarkan melalui Pro1 RRI Mataram, Selasa (7/4/2026).
Dialog yang berlangsung pukul 10.00–11.00 WITA tersebut menghadirkan Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTB, Katman, S.Pd., M.A., yang membahas pentingnya literasi digital dalam menghadapi era kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) terutama dalam pembelajaran.

Katman menjelaskan, literasi digital tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi mencakup pemahaman yang lebih luas, mulai dari kompetensi individu, akses terhadap teknologi, hingga kemampuan memanfaatkannya secara bijak.
“Literasi digital ini sangat kompleks, mulai dari kompetensi individu dalam memahami digital, hingga akses untuk memanfaatkan teknologi tersebut, sehingga kita tidak tertinggal dalam tatanan masyarakat industri 5.0,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini dunia telah memasuki fase perubahan yang sangat dinamis, di mana kecerdasan buatan berkembang pesat dan memengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan. Kondisi ini menuntut kejelian, khususnya dalam membedakan antara hasil karya manusia dan produk yang dihasilkan oleh AI.
Ia menambahkan, kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan sebenarnya telah berkembang sejak tahun 1990-an. Namun, Indonesia dinilai masih tertinggal dalam mengantisipasi percepatan perkembangan tersebut.
Di sisi lain, tantangan nyata di lapangan masih cukup besar. Salah satunya adalah keterbatasan akses internet yang belum merata, sehingga tidak semua sekolah seperti di Provinsi NTB mampu mengoptimalkan penggunaan teknologi digital dalam proses pembelajaran.
Selain itu, keterampilan digital masyarakat, khususnya di kalangan pelajar dan tenaga pendidik, juga masih perlu ditingkatkan. Katman menilai, masih ada kesenjangan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi secara produktif.
“Kesadaran terhadap keamanan digital juga masih rendah. Banyak yang sudah mahir menggunakan aplikasi, tetapi justru terjebak pada penggunaan yang kurang tepat, seperti pinjaman online, tanpa memahami risikonya,” ungkapnya.
Melalui forum tersebut, Katman mendorong peningkatan literasi digital yang tidak hanya fokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada aspek etika, keamanan, dan pemanfaatan yang berdampak positif bagi dunia pendidikan. (RRI/Joe)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....