UIN Mataram Gandeng OJK dan BSI Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah Mahasiswa
- 28 Jul 2026 12:40 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menggelar kegiatan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah guna meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap pengelolaan keuangan berbasis syariah di era digital.
Kegiatan bertema "Langkah Emas Generasi Cerdas Finansial dan Tangguh di Era Digital" tersebut berlangsung di Auditorium UIN Mataram, Senin 27 Juli 2026, dan diikuti hampir seribu peserta yang terdiri atas mahasiswa serta sivitas akademika UIN Mataram.
Turut hadir dalam kegiatan itu Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB Lalu Moh. Faozal, Rektor UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., Deputi Kepala OJK Provinsi NTB Dhita Listya Mardianing, VP Corporate Stakeholder Management BSI Greget Kala Buana, dan VP Personal & Retail Institution BSI Harsaid Yusuf Bakhtiar.
Dalam kegiatan tersebut, para narasumber menekankan pentingnya literasi keuangan syariah sebagai bekal generasi muda menghadapi pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi sektor keuangan. Mahasiswa juga diperkenalkan dengan berbagai layanan perbankan syariah digital, mulai dari transaksi perbankan, investasi berbasis emas, hingga perencanaan keuangan sesuai prinsip syariah.
Rektor UIN Mataram Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., mengatakan kolaborasi antara UIN Mataram, OJK, dan BSI merupakan langkah strategis dalam membangun pemahaman sekaligus akses mahasiswa terhadap layanan keuangan syariah.
"Literasi merupakan upaya memberikan pengetahuan mengenai produk dan layanan keuangan syariah agar masyarakat mampu mengelola keuangan sesuai syariat Islam dan regulasi negara. Sementara inklusi memastikan layanan tersebut mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat," jelasnya.
Ia menerangkan literasi dan inklusi merupakan dua hal yang saling melengkapi. Menurutnya, pemahaman tanpa akses tidak akan memberikan manfaat, begitu pula akses tanpa pengetahuan berpotensi menimbulkan kesalahan dalam penggunaan layanan keuangan.
"Literasi tanpa inklusi berarti tahu tetapi tidak bisa mengakses. Sebaliknya, inklusi tanpa literasi berarti memiliki akses namun berisiko salah menggunakan layanan keuangan. Karena itu keduanya harus berjalan beriringan," terangnya.

Prof. Masnun menambahkan kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik layanan keuangan syariah di lapangan. Hal itu dinilai penting mengingat masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah, keterbatasan akses, serta kebutuhan peningkatan sumber daya manusia di sektor tersebut.
Sementara itu, Deputi Kepala OJK Provinsi NTB Dhita Listya Mardianing mengatakan peningkatan literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak di tengah maraknya berbagai layanan finansial digital yang berkembang sangat cepat.
"Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan maraknya berbagai penawaran finansial digital, pemahaman literasi keuangan yang benar menjadi kunci utama," ujarnya. "OJK terus berkomitmen mendorong inklusi dan perlindungan konsumen agar generasi muda dapat memanfaatkan ekosistem keuangan syariah digital secara bijak, aman, dan produktif untuk masa depan mereka."
Selain memperoleh materi, peserta juga berkesempatan mencoba berbagai layanan perbankan syariah digital yang disediakan BSI secara langsung. Kolaborasi antara regulator, perguruan tinggi, dan industri perbankan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan finansial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah di Nusa Tenggara Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....