Permainan Rakyat hingga Tarkam, Pendekatan Kultural Balai Bahasa

  • 28 Feb 2026 18:22 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pendekatan revitalisasi bahasa daerah tidak selalu berbentuk kelas formal. Kegiatan budaya dan permainan rakyat menjadi ruang alternatif yang dinilai efektif.

Balai Bahasa Provinsi NTB mendorong penggunaan bahasa daerah dalam berbagai aktivitas sosial. Turnamen antarkampung hingga seni tradisional dipandang sebagai medium strategis.

Plt. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Zamzam Hariro, menyebut kegiatan Tarkam memiliki intensitas penggunaan bahasa daerah yang tinggi. Interaksi spontan di ruang tersebut memperkuat daya hidup bahasa.

“Di Tarkam atau kegiatan seni, penggunaan bahasa daerah sangat bagus dan intensif. Itu ruang yang harus kita masuk,” terangnya, Sabtu 28 Februari 2026.

Selain olahraga, seni tradisional seperti gendang beleq dan peresean turut menjadi perhatian. Kegiatan tersebut memuat ekspresi linguistik yang khas.

Balai Bahasa berupaya memasukkan pendekatan tersebut dalam kerangka mentalisasi kebahasaan. Bahasa daerah diposisikan sebagai bagian dari kebanggaan budaya.

“Kami akan masuk lewat permainan rakyat dan seni tradisi. Jangan sampai bahasa daerah itu punah,” katanya.

Zamzam mengakui adanya pergeseran penggunaan bahasa di wilayah perkotaan. Namun, ia melihat desa-desa masih menjadi benteng utama pelestarian.

Optimisme tersebut diperkuat oleh fakta bahwa sebagian masyarakat masih menggunakan bahasa daerah dalam keseharian. Kondisi ini menjadi fondasi bagi strategi lanjutan.

Balai Bahasa menilai revitalisasi harus bersifat partisipatif. Masyarakat perlu terlibat langsung agar bahasa tidak sekadar menjadi simbol administratif.

Program ini juga sejalan dengan upaya memperkuat identitas kultural di tengah arus globalisasi. Bahasa menjadi elemen penting dalam membangun jati diri daerah.

Menurut Zamzam, keberhasilan pelestarian tidak bisa instan. Dibutuhkan konsistensi dan kesadaran kolektif lintas generasi.

“Kita bersyukur di desa-desa anak-anak masih berbahasa daerah. Itu yang harus kita jaga dan kembangkan,” tuturnya.

Melalui pendekatan kultural yang menyentuh akar masyarakat, Balai Bahasa NTB berupaya memastikan bahasa daerah tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....