Mandalika Bumi dan Kelas Bahasa Sasak, Upaya Balai Bahasa NTB Perkuat Bahasa
- 28 Feb 2026 18:14 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Program Mandalika Bumi menjadi salah satu terobosan dalam memperkuat eksistensi bahasa Indonesia dan bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi. Inisiatif ini dirancang untuk menjawab kebutuhan komunikasi masyarakat pariwisata tanpa mengabaikan identitas lokal.
Plt. Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Zamzam Hariro, menjelaskan bahwa Mandalika Bumi merupakan akronim dari Mandalika BIPA Bumi. Program tersebut menyasar pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing sekaligus penguatan budaya lokal.
“Kami melihat di kawasan wisata, kemampuan bahasa asing sangat baik. Tetapi bahasa daerahnya justru mulai terpinggirkan,” ujarnya, Sabtu 28 Februari 2026.
Menurutnya, fenomena tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Generasi muda di kawasan wisata dinilai semakin fasih berbahasa asing, namun kurang mengenal bahasa ibunya.
Sebagai respons, Balai Bahasa menghadirkan Indonesian and Culture Class. Kelas ini tidak hanya mengajarkan bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa dan budaya lokal seperti Bahasa Sasak.
Program tersebut telah berjalan di sejumlah lokasi strategis. Di antaranya Gili Trawangan, Titibatu, dan Kuta Mandalika dengan dukungan mitra komunitas.
“Kami sudah menjalankan kelas bahasa Indonesia dan bahasa Sasak. Kurikulum dan bahan ajarnya sedang kami rapikan bersama mitra,” jelas Zamzam.
Ia menyebutkan kerja sama dengan komunitas seperti Chili House menjadi bagian dari penguatan implementasi program. Kolaborasi tersebut mempermudah penetrasi pembelajaran di kawasan wisata.
Menariknya, antusiasme belajar bahasa daerah justru datang dari warga asing. Bahkan, sempat beredar video wisatawan yang berbicara menggunakan Bahasa Sasak.
“Orang asing justru bersemangat belajar bahasa daerah. Itu menjadi pengingat bagi kita agar tidak melupakannya,” katanya.
Balai Bahasa menilai globalisasi bukan ancaman mutlak, melainkan momentum untuk memperkenalkan identitas lokal. Bahasa daerah diposisikan sebagai daya tarik budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Pendekatan ini juga memperkuat diplomasi budaya melalui jalur pendidikan nonformal. Bahasa menjadi instrumen strategis dalam menjaga keberlanjutan identitas masyarakat NTB.
Zamzam optimistis langkah tersebut dapat memperlambat pergeseran penggunaan bahasa daerah. Ia menegaskan bahwa revitalisasi harus dilakukan secara sistematis dan konsisten.
“Kami tidak ingin bahasa daerah mati. Selama kami masih berdiri, kami akan terus menghidupkannya,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....