Pendampingan Berkelanjutan Jadi Strategi Penguatan Mutu Sekolah

  • 28 Jan 2026 21:21 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram — Perbaikan mutu pendidikan sering kali tidak langsung terlihat dalam waktu singkat. Banyak perubahan justru berawal dari proses pendampingan yang berjalan perlahan namun konsisten di tingkat sekolah.

Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTB, Katman, S.Pd., M.A., menyebut pendekatan pendampingan membantu sekolah memahami kebutuhannya sendiri. Menurutnya, sekolah pada dasarnya memiliki potensi, hanya perlu diarahkan agar berkembang lebih terstruktur.

Di sejumlah sekolah dampingan, pembenahan dimulai dari hal mendasar yang kerap terlewat. Penataan administrasi, perencanaan program, hingga evaluasi rutin menjadi fondasi awal penguatan mutu.

Pendampingan juga menciptakan ruang diskusi yang lebih terbuka antara sekolah dan pendamping. Melalui dialog, tantangan yang dihadapi bisa dipetakan bersama.

“Sekolah sebenarnya tahu apa yang menjadi kendalanya, hanya saja kadang perlu mitra berdiskusi untuk menemukan langkah yang paling tepat,” kata Katman, Rabu 28 januari 2026.

Ia menilai mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik siswa. Tata kelola sekolah yang rapi turut memengaruhi kualitas layanan pembelajaran.

Dalam proses pendampingan, sekolah didorong menyusun rencana tindak lanjut yang realistis. Target kecil yang jelas dinilai lebih efektif dibanding rencana besar tanpa tahapan.

Katman melihat peran kepala sekolah sangat menentukan arah perubahan. Kepemimpinan yang terbuka memudahkan seluruh warga sekolah menerima proses perbaikan.

“Kalau kepala sekolahnya mau bergerak, biasanya guru-guru akan mengikuti ritme perubahan itu,” ujarnya.

Pendampingan menurutnya bukan kegiatan sekali datang lalu selesai. Hubungan kerja dibangun berkelanjutan agar perkembangan sekolah dapat dipantau secara bertahap.

Pendekatan ini memberi kesempatan sekolah bertumbuh sesuai kondisi masing-masing. Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus.

Sekolah yang terbiasa melakukan evaluasi diri disebut lebih cepat mengenali kekuatan dan kelemahannya. Kebiasaan refleksi membuat perbaikan menjadi bagian dari budaya kerja.

“Yang kita dorong adalah kesadaran internal sekolah untuk terus berbenah, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif,” tutur Katman.

Dari proses tersebut, sekolah perlahan membangun kepercayaan diri dalam mengelola mutu pendidikannya sendiri. Pendampingan hadir sebagai penguat langkah, bukan penentu arah sepenuhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....