Pemkab Loteng Evaluasi Tanaman Cabai di Sekolah
- 02 Okt 2026 18:30 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah — Program Bersama Siswa Tanam Cabai Atasi Inflasi (BESTI) di Lombok Tengah mulai memasuki tahap evaluasi. Setelah diluncurkan pada 1 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kini ingin memastikan tanaman cabai yang ditanam di sekolah tidak berhenti sebagai gerakan seremonial, tetapi benar-benar tumbuh, menghasilkan, dan memberi manfaat.
Evaluasi dilakukan untuk melihat perkembangan tanaman cabai di masing-masing sekolah sekaligus memetakan berbagai kendala yang muncul selama proses budidaya.
Wakil Bupati Lombok Tengah HM. Nursiah mengatakan, pemerintah daerah dalam evaluasi tersebut membahas kondisi tanaman di sekolah, mulai dari pertumbuhan hingga persoalan yang dihadapi dalam perawatannya.
Secara umum, pertumbuhan tanaman cabai dinilai cukup baik. Namun, tidak seluruh tanaman berkembang sesuai harapan. Sejumlah sekolah masih menghadapi persoalan tanaman yang mati maupun pertumbuhan yang belum normal.
"Kondisi tersebut menjadi catatan pemerintah untuk melihat kembali bagaimana tanaman dirawat setelah ditanam. Sebab, keberhasilan BESTI tidak hanya ditentukan dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan sekolah mempertahankan tanaman hingga memasuki masa panen," ujarnya, Kamis 1 Oktober 2026.
Karena itu, pemerintah mulai memetakan perkiraan waktu panen dari tanaman cabai di sekolah-sekolah tersebut. Hasil produksi nantinya juga akan dilihat pemanfaatannya, termasuk kemungkinan untuk mendukung ketersediaan cabai di tengah masyarakat.
Dengan demikian, program BESTI diarahkan memiliki hasil yang lebih nyata. Tanaman yang tumbuh di lingkungan sekolah diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan siswa, tetapi juga menghasilkan cabai yang bisa dimanfaatkan.
Program ini sekaligus membawa misi yang lebih luas. BESTI dirancang sebagai sarana pembelajaran bagi siswa untuk mengenal proses budidaya pertanian secara langsung.
Melalui kegiatan menanam dan merawat cabai, siswa tidak hanya belajar secara teori, tetapi juga memahami bagaimana sebuah tanaman dipelihara hingga menghasilkan. Lahan di lingkungan sekolah pun didorong agar dapat dimanfaatkan secara produktif.
Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan. Sekolah dapat menjadi salah satu titik kecil produksi pangan melalui pemanfaatan lahan yang tersedia.
Pemerintah berharap kebiasaan menanam juga dapat membangun kepedulian siswa terhadap lingkungan. Terlebih, kegiatan tersebut tidak berhenti pada menanam bibit, tetapi membutuhkan perawatan secara rutin dan berkelanjutan.
Namun, ada satu ukuran lain yang kini ikut diperhatikan pemerintah, yakni sejauh mana hasil panen BESTI nantinya dapat berkaitan dengan pengendalian inflasi.
Cabai merupakan salah satu komoditas pangan yang harganya dapat mengalami perubahan dan ikut memengaruhi pergerakan inflasi. Karena itu, pemerintah ingin melihat apakah produksi cabai dari sekolah-sekolah melalui BESTI nantinya mampu memberikan tambahan pasokan, meskipun dalam skala yang terbatas.
Wakil Bupati mengatakan, aspek harga menjadi bagian dari evaluasi program. Pemerintah ingin mengetahui perkembangan tanaman hingga masa panen sekaligus melihat kontribusi produksinya terhadap ketersediaan cabai.
Dengan evaluasi tersebut, BESTI diharapkan tidak hanya menghasilkan aktivitas menanam di sekolah, tetapi berkembang menjadi gerakan yang memiliki manfaat berkelanjutan.
Jika tanaman dapat tumbuh dengan baik, dipanen, dimanfaatkan, dan ikut menambah pasokan cabai, maka program tersebut memiliki manfaat berlapis: menjadi media pendidikan bagi siswa, memanfaatkan lahan sekolah, memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung upaya pemerintah menjaga stabilitas harga.
Untuk itu, evaluasi akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam melihat bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki, terutama pada perawatan tanaman hingga memastikan hasil panen dapat dimanfaatkan secara optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....