Stoikisme #19: Mengapa Kita Baru Menghargai Sesuatu setelah Kehilangannya?

  • 29 Sep 2026 09:03 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pernahkah Anda baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah sesuatu itu tidak lagi ada?

Sebuah rumah yang dulu terasa biasa. Teman yang dulu sering bertemu. Orang tua yang dulu bisa ditelepon kapan saja. Pekerjaan yang dulu sering dikeluhkan. Ketika semuanya masih ada, kita sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Sampai suatu hari, keadaan berubah. Barulah kita sadar:

"Ternyata selama ini saya punya sesuatu yang sangat berharga."

Inilah salah satu hal yang menarik dalam Stoikisme. Para filsuf Stoik menyadari bahwa hampir tidak ada sesuatu di dunia ini yang bisa kita anggap benar-benar permanen. Orang bisa pergi. Barang bisa rusak. Pekerjaan bisa berubah. Kondisi ekonomi bisa naik dan turun. Bahkan kehidupan kita sendiri suatu hari akan berakhir. Kesadaran seperti ini mungkin terdengar menyedihkan.

Namun, Stoikisme justru melihatnya dari sisi lain.

Mengingat bahwa sesuatu tidak selamanya ada dapat membuat kita lebih menghargainya ketika masih memilikinya. Bayangkan Anda mengetahui bahwa hari ini adalah kesempatan terakhir untuk bertemu seseorang yang Anda sayangi. Apakah Anda akan berbicara dengannya dengan cara yang sama?

Mungkin Anda akan lebih banyak mendengarkan. Lebih sabar. Lebih memperhatikan. Lebih sedikit mengeluh. Masalahnya, kita tidak pernah tahu kapan sebuah pertemuan menjadi pertemuan terakhir. Karena itu, kita tidak harus menunggu kehilangan untuk mulai menghargai.

Coba lihat kehidupan sehari-hari.

Kita sering mengeluh tentang pekerjaan. Tetapi ada orang lain yang sedang mencari pekerjaan. Kita mengeluh tentang rumah yang kecil. Tetapi mungkin ada orang yang sedang berharap memiliki tempat tinggal yang aman. Kita kesal karena keluarga terlalu sering menghubungi. Sementara di tempat lain, seseorang mungkin berharap masih bisa mendengar suara keluarganya.

Bukan berarti kita tidak boleh mengeluh. Masalah tetap masalah. Tetapi terkadang kita membutuhkan jarak sebentar untuk melihat bahwa sesuatu yang terasa biasa bagi kita sebenarnya sangat berharga. Dalam Stoikisme, ada gagasan bahwa kita sebaiknya tidak memperlakukan sesuatu seolah-olah kita memilikinya selamanya. Bukan untuk hidup dalam ketakutan kehilangan. Justru agar kita tidak hidup dalam kelalaian.

Jika kita sadar bahwa waktu bersama seseorang terbatas, kita mungkin lebih menghargai percakapan. Jika kita sadar bahwa kesehatan bisa berubah, kita mungkin lebih memperhatikan tubuh. Jika kita sadar bahwa pekerjaan tidak selamanya ada, kita mungkin lebih menghargai kesempatan untuk bekerja dan belajar. Kesadaran tentang kehilangan bukan berarti kita harus menjadi pesimis. Kita hanya mengingat satu kenyataan sederhana:

Tidak semua hal akan tetap sama.

Dan justru karena itulah, apa yang kita miliki hari ini layak dihargai. Cobalah melakukan latihan sederhana. Pilih satu hal yang sering Anda anggap biasa. Bisa keluarga. Bisa pekerjaan. Bisa rumah. Bisa kesehatan. Kemudian bayangkan sejenak:

"Bagaimana jika suatu hari saya tidak lagi memilikinya?"

Jangan gunakan pertanyaan itu untuk menakut-nakuti diri. Gunakan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Setelah itu, kembali kepada kenyataan. Hal tersebut masih ada. Orang itu masih bisa dihubungi. Rumah itu masih menjadi tempat pulang. Pekerjaan itu masih memberi kesempatan. Tubuh ini masih menemani kita menjalani hari. Mungkin tidak sempurna. Tetapi masih ada.

Dan terkadang, kesadaran sederhana seperti itu sudah cukup untuk membuat kita berhenti sejenak dan berkata:

"Ternyata saya punya banyak hal yang selama ini lupa saya syukuri."

Kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Tidak perlu menunggu seseorang pergi untuk mengatakan bahwa kita menyayanginya. Tidak perlu menunggu kesehatan memburuk untuk mulai menjaganya. Tidak perlu menunggu kesempatan hilang untuk menyadari nilainya. Karena hidup memang berubah. Apa yang ada hari ini mungkin tidak ada selamanya. Tetapi justru karena waktunya terbatas, setiap momen menjadi lebih berarti.

Kehilangan memang menyakitkan. Tetapi kesadaran bahwa kehilangan bisa terjadi seharusnya membuat kita lebih hadir saat sesuatu masih berada di tangan kita.

Jadi, sebelum tidur malam ini, coba lihat sekeliling. Tanyakan kepada diri sendiri:

"Apa yang saya miliki hari ini yang mungkin baru akan saya hargai ketika sudah tidak ada?"

Kemudian, jangan hanya memikirkannya. Hargai. Selagi masih ada. Karena terkadang, cara terbaik mempersiapkan diri menghadapi kehilangan bukan dengan terus takut kehilangan. Melainkan dengan belajar menghargai apa yang masih kita miliki hari ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....