Stoikisme #13: Jangan Langsung Bereaksi, Belajar Berhenti Sejenak

  • 22 Sep 2026 11:53 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Satu pesan singkat bisa merusak suasana hati. Satu komentar bisa membuat kita marah. Satu perkataan bisa membuat kita ingin membalas seketika. Dan sering kali, kita baru menyesal beberapa menit setelah melakukannya.

Pernah mengalaminya?

Masalahnya mungkin bukan pada emosi yang muncul. Marah, kecewa, atau tersinggung adalah hal yang manusiawi. Masalahnya adalah ketika emosi muncul, lalu kita langsung bertindak tanpa memberi kesempatan kepada pikiran untuk bekerja. Di sinilah Stoikisme mengajarkan sesuatu yang sederhana: beri jarak antara kejadian dan respons kita.

Bayangkan seseorang mengirim pesan yang menurut Anda sangat menyebalkan.

Jari Anda sudah siap mengetik balasan. Sebelum menekan tombol kirim, berhenti. Tarik napas. Baca kembali pesannya.

Kemudian tanyakan:

"Apakah saya ingin menyelesaikan masalah, atau hanya ingin melampiaskan kemarahan?"

Pertanyaan sederhana itu bisa mengubah banyak hal. Sebab ketika sedang marah, kita sering tidak benar-benar mencari solusi. Kita hanya ingin orang lain merasakan kemarahan yang sama. Akibatnya, satu kalimat bisa berubah menjadi pertengkaran panjang. Padahal, kita masih memiliki pilihan. Kita bisa menunda balasan. Kita bisa memilih kata-kata yang lebih tenang. Atau kita bisa memutuskan bahwa percakapan tersebut memang tidak perlu dilanjutkan.

Inilah yang membedakan reaksi dan respons.

Reaksi biasanya muncul secara spontan. Respons memberikan ruang bagi kita untuk memilih. Jeda beberapa detik memang tidak akan menyelesaikan semua masalah. Tetapi jeda memberikan kesempatan kepada kita untuk mengambil kembali kendali.

Contohnya bukan hanya ketika marah.

Ketika mendapat kabar buruk, jangan langsung mengambil keputusan. Ketika mendapat pujian, jangan langsung merasa lebih tinggi dari orang lain. Ketika mendapat kritik, jangan langsung menganggap orang tersebut membenci kita. Ketika menerima tawaran yang sangat menarik, jangan langsung mengatakan iya.

Berhenti sebentar.

Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Pisahkan fakta dari asumsi. Kemudian tentukan tindakan yang paling masuk akal. Kebiasaan ini terdengar sederhana, tetapi membutuhkan latihan.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Pesan harus segera dibalas. Komentar langsung ditanggapi. Berita datang setiap detik. Media sosial membuat kita terbiasa memberikan reaksi bahkan sebelum memahami sesuatu secara utuh. Karena itu, kemampuan untuk berhenti sejenak justru semakin penting.

Tidak semua pesan membutuhkan balasan segera. Tidak semua komentar membutuhkan jawaban. Tidak semua masalah harus diselesaikan saat emosi sedang tinggi. Kadang-kadang, tindakan paling bijaksana adalah tidak melakukan apa-apa untuk sementara waktu. Bukan karena kita lemah. Bukan karena kita takut. Tetapi karena kita ingin memastikan bahwa keputusan yang kita ambil berasal dari pikiran yang jernih, bukan dari emosi sesaat.

Cobalah latihan sederhana ini.

Ketika sesuatu membuat Anda kesal, gunakan aturan tiga langkah: Berhenti, Jangan langsung bertindak, Amati.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang Anda rasakan? Apakah ada asumsi yang sedang Anda buat?

Pilih.

Setelah pikiran lebih tenang, tentukan respons yang paling sesuai dengan nilai dan tujuan Anda. Mungkin Anda tetap perlu berbicara. Mungkin Anda perlu mengatakan tidak. Mungkin Anda perlu meminta penjelasan. Atau mungkin Anda menyadari bahwa masalah tersebut sebenarnya tidak layak mendapatkan energi Anda. Pada akhirnya, hidup akan terus memberikan alasan untuk membuat kita marah, kecewa, takut, dan tersinggung.

Kita tidak bisa menghentikannya., tetapi kita bisa melatih satu hal:

jangan biarkan setiap kejadian langsung menentukan tindakan kita.

Karena terkadang, jarak beberapa detik antara emosi dan tindakan adalah jarak antara keputusan yang kita banggakan dan keputusan yang kita sesali. Tidak semua hal membutuhkan reaksi. Beberapa hal hanya membutuhkan ketenangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....