Stoikisme #10: Mengapa Kita Perlu Sesekali Merasakan Ketidaknyamanan?

  • 31 Agt 2026 08:44 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Bayangkan hidup tanpa pernah mengalami kesulitan. Tidak pernah kekurangan uang, tidak pernah ditolak, tidak pernah gagal dan tidak pernah menghadapi hari yang berat. Kedengarannya menyenangkan, bukan?

Tetapi bagaimana jika hidup yang terlalu nyaman justru membuat kita semakin lemah ketika masalah akhirnya datang?

Inilah salah satu pertanyaan menarik dalam Stoikisme.

Para filsuf Stoik tidak mengajarkan manusia untuk mencari penderitaan. Namun, mereka memahami bahwa ketidaknyamanan adalah bagian dari kehidupan yang tidak selalu bisa kita hindari. Karena itu, sesekali kita perlu belajar menghadapinya.

Coba perhatikan kehidupan sehari-hari.

Ketika lapar sedikit, kita langsung mencari makanan. Ketika bosan, kita membuka media sosial. Ketika pekerjaan terasa sulit, kita ingin segera berhenti. Ketika seseorang mengkritik kita, kita ingin membalas. Tanpa sadar, kita terbiasa mencari kenyamanan setiap kali sesuatu terasa tidak menyenangkan.

Masalahnya, hidup tidak selalu nyaman.

Suatu hari kita mungkin kehilangan pekerjaan. Mengalami kegagalan. Kehilangan seseorang. Menghadapi masalah keuangan. Atau berada dalam situasi yang sama sekali tidak sesuai dengan rencana. Jika sejak awal kita tidak pernah belajar menghadapi ketidaknyamanan, masalah kecil pun bisa terasa sangat berat. Itulah mengapa Stoikisme mengenal latihan yang disebut voluntary discomfort, atau ketidaknyamanan yang dilakukan secara sadar.

Tujuannya bukan menyiksa diri.

Melainkan mengingatkan kita bahwa kita sebenarnya mampu hidup tanpa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.

Misalnya, sesekali makan dengan menu sederhana. Mengurangi penggunaan ponsel. Bangun sedikit lebih pagi. Menunda keinginan membeli sesuatu. Berolahraga meskipun sedang malas. Hal-hal tersebut terlihat kecil, namun ada pelajaran besar di dalamnya.

Kita belajar mengatakan kepada diri sendiri: "Saya tidak harus selalu mendapatkan kenyamanan untuk tetap baik-baik saja."

Ketika kita terbiasa menahan keinginan kecil, kita menjadi lebih siap menghadapi persoalan yang lebih besar. Misalnya, seseorang yang terbiasa mengendalikan pengeluaran akan lebih siap ketika kondisi keuangan tiba-tiba berubah. Seseorang yang terbiasa disiplin meskipun sedang tidak bersemangat akan lebih mampu menghadapi pekerjaan sulit. Seseorang yang terbiasa menerima kritik tanpa langsung marah akan lebih mudah berkembang.

Ketidaknyamanan juga mengajarkan kita untuk menghargai sesuatu yang sering dianggap biasa.

Coba matikan internet selama beberapa jam. Tiba-tiba kita sadar betapa bergantungnya kita pada ponsel. Atau coba hidup sederhana selama beberapa hari. Kita mungkin baru menyadari bahwa ternyata tidak semua hal yang kita miliki benar-benar kita butuhkan.

Inilah sisi menarik dari latihan Stoikisme. Kita sengaja keluar sebentar dari zona nyaman agar kita tidak menjadi budak kenyamanan.

Namun, penting untuk memahami batasnya.

Stoikisme bukan ajakan untuk menyiksa diri atau sengaja mencari penderitaan. Tujuannya adalah membangun kemampuan untuk berkata, "Saya bisa menghadapi ini," ketika kehidupan memang membawa kita pada situasi yang sulit. Karena masalah terbesar bukan selalu masalah yang kita hadapi. Terkadang masalahnya adalah keyakinan bahwa kita tidak akan mampu menghadapinya.

Bayangkan seseorang yang takut kehilangan pekerjaan.

Ketakutannya mungkin bukan hanya tentang kehilangan penghasilan, tetapi juga pikiran bahwa hidupnya akan hancur. Latihan Stoik membantu kita memisahkan kenyataan dari ketakutan.

"Ya, kehilangan pekerjaan akan sulit."

"Tetapi apakah saya benar-benar tidak akan mampu mencari jalan keluar?"

Dengan cara berpikir seperti ini, kita tidak menghilangkan masalah, kita hanya berhenti membesarkannya di dalam kepala. Pada akhirnya, hidup tidak bisa dijamin selalu nyaman. Akan ada hari ketika rencana gagal. Akan ada orang yang mengecewakan. Akan ada keadaan yang memaksa kita keluar dari zona nyaman. Kita tidak bisa memilih semua yang terjadi.

Tetapi kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Jadi, mungkin sesekali kita memang perlu memilih sesuatu yang sedikit tidak nyaman. Bukan karena kita membenci kenyamanan. Tetapi agar ketika kenyamanan itu hilang, kita tetap mampu berdiri. Sebab kekuatan bukan berarti tidak pernah merasakan kesulitan.

Kekuatan adalah mengetahui bahwa ketika kesulitan datang, kita masih mampu menghadapinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....