Stoikisme #6: Ingat bahwa Kita Akan Mati, agar Tidak Menyia-nyiakan Hidup
- 28 Agt 2026 10:24 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Kapan terakhir kali Anda benar-benar memikirkan bahwa hidup ini suatu hari akan berakhir? Mungkin pertanyaan itu terdengar sedikit menyeramkan. Kita biasanya menghindari pembicaraan tentang kematian. Sebisa mungkin kita tidak memikirkannya. Namun, dalam Stoikisme, mengingat kematian justru bisa menjadi cara untuk menjalani hidup dengan lebih baik.
Konsep ini dikenal dengan istilah Memento Mori.
Secara sederhana, Memento Mori berarti mengingat bahwa kita akan mati. Bukan untuk membuat kita takut. Bukan untuk membuat kita pesimis. Justru sebaliknya. Mengingat bahwa hidup memiliki batas dapat membuat kita lebih menghargai setiap waktu yang kita miliki.
Coba bayangkan Anda mengetahui bahwa hari ini adalah hari terakhir Anda.
Apa yang akan Anda lakukan?
Apakah Anda masih akan menghabiskan berjam-jam memikirkan komentar orang lain?
Apakah Anda masih akan marah karena masalah kecil?
Apakah Anda masih ingin menunda bertemu orang yang Anda sayangi?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Sering kali kita hidup seolah-olah memiliki waktu yang tidak terbatas.
"Kapan-kapan saja."
"Nanti kalau sudah punya uang."
"Nanti kalau pekerjaan sudah selesai."
"Nanti kalau sudah lebih sukses."
Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu berapa banyak kata "nanti" yang masih kita miliki. Memento Mori bukan berarti kita harus berhenti membuat rencana masa depan. Kita tetap perlu bekerja, menabung, membangun karier, dan mengejar impian. Namun, jangan sampai seluruh hidup dihabiskan untuk mengejar sesuatu yang belum tentu pernah kita nikmati.
Kita bekerja keras untuk membeli rumah, tetapi terlalu sibuk bekerja untuk menikmatinya. Kita mengejar uang demi kehidupan yang nyaman, tetapi lupa menikmati waktu bersama keluarga. Kita sibuk mengejar pengakuan, sampai lupa bertanya apakah kehidupan yang kita jalani benar-benar sesuai dengan keinginan kita.
Di sinilah Memento Mori menjadi pengingat.
Waktu bukan sesuatu yang bisa dikembalikan.
Uang yang hilang mungkin bisa dicari lagi. Pekerjaan yang hilang mungkin bisa digantikan. Barang yang rusak mungkin bisa dibeli kembali. Tetapi waktu yang sudah lewat tidak pernah bisa dibeli kembali. Karena itu, Stoikisme mengajak kita memperlakukan waktu dengan lebih sadar.
Bukan berarti setiap hari harus diisi dengan kesenangan.
Menjalani hidup dengan baik juga berarti melakukan tanggung jawab, menghadapi kesulitan, bekerja keras, dan membantu orang lain. Namun, semuanya dilakukan dengan kesadaran bahwa kesempatan untuk melakukan itu tidak selamanya ada. Mungkin setelah membaca artikel ini, Anda bisa mencoba satu hal sederhana.
Hari ini, luangkan beberapa menit tanpa ponsel. Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
"Jika waktu saya ternyata tidak sebanyak yang saya kira, apa yang sebenarnya ingin saya lakukan dengan hidup ini?"
Mungkin jawabannya bukan menjadi lebih kaya. Mungkin bukan memiliki lebih banyak pengikut. Mungkin bukan mendapatkan pengakuan dari semua orang. Bisa jadi jawabannya sangat sederhana: lebih banyak waktu bersama keluarga, menyelesaikan sesuatu yang selama ini ditunda, meminta maaf, memulai kembali, atau sekadar menikmati hidup tanpa terus terburu-buru.
Memento Mori tidak mengatakan bahwa kematian adalah akhir yang harus ditakuti. Ia justru mengingatkan bahwa karena hidup terbatas, setiap hari menjadi berharga. Jadi, jangan tunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari nilainya. Jangan tunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan tunggu perpisahan untuk menghargai seseorang. Dan jangan tunggu hidup hampir berakhir untuk mulai benar-benar menjalaninya.
Karena mungkin, cara terbaik untuk mengingat kematian bukanlah dengan takut mati.
Melainkan dengan memastikan kita tidak menyia-nyiakan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....