Stoikisme #5: Stoikisme Bukan Berarti Tidak Punya Perasaan

  • 25 Agt 2026 12:42 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, "Jangan terlalu baper. Jadilah orang yang Stoik." Seolah-olah menjadi Stoik berarti tidak boleh sedih, tidak boleh marah, tidak boleh kecewa, dan tidak boleh menangis.

Padahal, itu bukan Stoikisme.

Menjadi tenang bukan berarti tidak memiliki emosi. Kita tetap manusia. Kita bisa kecewa ketika ditolak, marah ketika diperlakukan tidak adil, sedih ketika kehilangan seseorang, bahkan takut ketika menghadapi sesuatu yang tidak pasti. Yang membedakan adalah apa yang kita lakukan setelah emosi itu muncul. Bayangkan seseorang mengirim pesan kepada Anda. Pesan itu terdengar menyakitkan. Dalam hitungan detik, Anda merasa marah. Jari mulai mengetik balasan panjang.

Di titik itu, ada dua pilihan. Anda bisa langsung mengirimnya atau berhenti sebentar dan bertanya:

"Apakah saya sedang merespons masalah, atau hanya sedang bereaksi terhadap emosi saya?"

Jeda kecil tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, justru di situlah latihan Stoikisme dimulai.

Emosi sering muncul lebih cepat daripada pikiran rasional kita. Kita marah dulu, baru berpikir. Kita takut dulu, baru mencari tahu. Kita kecewa dulu, baru memahami situasinya. Stoikisme mengajarkan kita untuk memberi ruang di antara emosi dan tindakan.

Bukan menghilangkan emosi. Bukan pula memendamnya. Tetapi menyadarinya.

Ketika marah, kita bisa mengatakan kepada diri sendiri, "Saya sedang marah."

Ketika sedih, "Saya sedang sedih."

Ketika takut, "Saya sedang takut."

Kalimat sederhana ini membantu kita menyadari bahwa emosi adalah sesuatu yang sedang kita alami, bukan sesuatu yang sepenuhnya menentukan siapa diri kita. Bayangkan emosi seperti ombak. Kita tidak bisa memerintahkan ombak untuk berhenti datang. Namun, kita bisa belajar untuk tidak terbawa arusnya. Hal yang sama berlaku dalam kehidupan.

Ketika seseorang menghina kita, kita tidak bisa mengendalikan perkataannya. Tetapi kita masih bisa memilih apakah penghinaan itu akan menentukan tindakan kita. Ketika seseorang mengecewakan kita, kita tidak bisa menghapus perasaannya dari dalam diri kita. Namun, kita bisa menentukan bagaimana meresponsnya.

Di sinilah Stoikisme menjadi sangat relevan.

Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap berpikir ketika masalah datang. Namun, jangan salah memahami konsep ini sebagai alasan untuk memendam semuanya.

Menangis bukan berarti lemah. Mengakui bahwa kita sedang kecewa bukan berarti gagal menjadi Stoik. Meminta bantuan ketika keadaan terasa berat juga bukan tanda kelemahan.

Yang perlu dihindari adalah membiarkan emosi mengambil alih seluruh keputusan kita.

Sebab keputusan yang dibuat ketika kita sedang sangat marah sering kali menjadi keputusan yang kita sesali ketika sudah tenang. Maka, lain kali ketika emosi mulai naik, cobalah memberi diri sendiri sedikit waktu.

Tarik napas, jangan langsung membalas dan jangan langsung mengambil keputusan.

Tanyakan:

"Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan?"

Lalu tanyakan lagi:

"Apa respons terbaik yang bisa saya pilih?"

Mungkin kita tidak bisa memilih emosi apa yang muncul. Tetapi kita masih bisa memilih apa yang akan kita lakukan setelah emosi itu datang. Dan mungkin, di situlah bentuk pengendalian diri yang sebenarnya.

Bukan menjadi manusia tanpa perasaan. Tetapi menjadi manusia yang tidak diperbudak oleh perasaannya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....