Stoikisme #2: Berhenti Menguras Energi untuk Hal yang Tidak Bisa Anda Kendalikan
- 29 Jul 2026 08:42 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Pernahkah Anda menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan sesuatu yang pada akhirnya tetap tidak berubah? Memikirkan omongan orang, hasil wawancara kerja, pasangan yang berubah sikap, atau masa lalu yang terus menghantui. Semakin dipikirkan, semakin lelah. Namun, masalahnya tetap ada.
Kalau iya, Anda tidak sendirian. Hampir semua orang pernah terjebak dalam situasi seperti itu. Menariknya, para filsuf Stoik sudah menemukan akar masalah ini lebih dari dua ribu tahun yang lalu.
Mereka menyebutnya Dikotomi Kendali.
Istilahnya mungkin terdengar rumit, tetapi maknanya sangat sederhana. Dalam hidup, hanya ada dua jenis hal: hal yang bisa kita kendalikan dan hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Yang bisa kita kendalikan adalah pikiran, sikap, pilihan, usaha, dan tindakan kita. Sementara itu, pendapat orang lain, cuaca, masa lalu, keberuntungan, kondisi ekonomi, hingga keputusan orang lain berada di luar kendali kita.
Masalah muncul ketika kita sibuk mengejar kelompok yang kedua.
Bayangkan Anda sudah belajar keras untuk menghadapi ujian. Anda datang tepat waktu, mengerjakan soal dengan maksimal, lalu menunggu hasilnya.
Belajar dengan sungguh-sungguh adalah sesuatu yang bisa Anda kendalikan. Namun, nilai akhir, tingkat kesulitan soal, atau apakah ada peserta lain yang lebih baik bukanlah sesuatu yang bisa Anda atur.
Jika Anda sudah memberikan usaha terbaik, mengapa harus terus menyiksa diri karena sesuatu yang memang bukan berada dalam kuasa Anda?
Contoh lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah media sosial. Anda mengunggah sebuah karya yang menurut Anda sudah maksimal. Namun, ternyata jumlah "like" sedikit atau bahkan mendapat komentar negatif.
Anda bisa mengendalikan kualitas karya yang dibuat. Anda bisa memilih untuk terus belajar dan berkembang. Tetapi Anda tidak bisa memaksa semua orang menyukainya.
Semakin cepat kita menerima kenyataan ini, semakin ringan beban yang kita rasakan.
Sayangnya, banyak orang justru membalik cara berpikir tersebut. Mereka rela kehilangan waktu tidur hanya karena memikirkan penilaian orang lain. Mereka marah sepanjang hari karena cuaca buruk. Mereka terus menyalahkan masa lalu yang sudah tidak mungkin diubah.
Padahal, semua energi itu bisa digunakan untuk memperbaiki sesuatu yang benar-benar berada di tangan mereka.
Filsuf Stoik, Epictetus, pernah mengajarkan bahwa kebebasan dimulai ketika kita mampu membedakan apa yang menjadi urusan kita dan apa yang bukan. Kalimat itu tetap relevan hingga hari ini.
Bukan berarti kita menjadi orang yang cuek atau tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Stoikisme justru mengajarkan agar kita bertanggung jawab penuh atas tindakan kita, tanpa membebani diri dengan hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah.
Mulai hari ini, setiap kali Anda merasa cemas atau marah, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan satu pertanyaan sederhana kepada diri sendiri:
"Apakah ini benar-benar berada dalam kendali saya?"
Jika jawabannya "ya", lakukan yang terbaik.
Jika jawabannya "tidak", mungkin sudah waktunya untuk melepaskannya.
Karena hidup akan terasa jauh lebih tenang ketika kita berhenti berperang melawan sesuatu yang sejak awal tidak pernah bisa kita menangkan.
Pada artikel berikutnya tentang Stoikisme, kita akan membahas mengapa pendapat orang lain sering kali memiliki kendali yang terlalu besar atas hidup kita, serta bagaimana Stoikisme membantu kita terbebas dari belenggu tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....