Stoikisme #1: kalau Kebahagiaan Bergantung pada Orang Lain, Mungkin Ini Masalahnya
- 27 Jul 2026 19:04 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Pernahkah Anda merasa hari yang awalnya menyenangkan tiba-tiba berubah buruk hanya karena satu komentar? Atau suasana hati langsung hancur karena seseorang mengabaikan pesan Anda? Jika iya, coba renungkan satu pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya yang sedang mengendalikan hidup Anda?
Banyak orang mengira penyebab stres adalah pekerjaan, pasangan, lingkungan, atau keadaan yang tidak sesuai harapan. Padahal, sering kali yang membuat kita menderita bukanlah peristiwanya, melainkan cara kita memaknainya. Di sinilah Stoikisme menawarkan sudut pandang yang berbeda.
Stoikisme adalah filsafat yang lahir lebih dari 2.000 tahun lalu di Yunani dan berkembang di Romawi. Meski usianya sangat tua, ajarannya justru terasa sangat relevan di era modern. Filosofi ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi orang yang dingin, tidak peduli, atau memendam emosi. Sebaliknya, Stoikisme mengajarkan bagaimana tetap tenang ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Bayangkan Anda sedang berkendara menuju tempat kerja. Tiba-tiba jalan macet total. Anda bisa memilih mengumpat, membunyikan klakson tanpa henti, dan tiba di kantor dengan kepala penuh amarah. Namun, apakah kemacetan itu akan hilang karena Anda marah?
Jawabannya tentu tidak.
Lalu apa yang sebenarnya bisa Anda kendalikan? Sikap Anda. Pikiran Anda. Cara Anda memanfaatkan waktu selama menunggu. Itulah inti dari Stoikisme: fokuslah pada apa yang bisa Anda kendalikan, dan belajarlah melepaskan hal-hal yang berada di luar kuasa Anda.
Prinsip ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya luar biasa. Banyak dari kita menghabiskan energi untuk memikirkan penilaian orang lain, komentar di media sosial, keputusan atasan, cuaca, bahkan masa lalu yang tidak mungkin diubah. Akibatnya, kita lelah oleh sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah bisa kita kendalikan.
Seorang filsuf Stoik bernama Epictetus pernah mengajarkan bahwa ada dua jenis hal dalam hidup: yang berada dalam kendali kita dan yang tidak. Sayangnya, sebagian besar orang justru menghabiskan waktu mengejar kelompok yang kedua. Kita ingin semua orang menyukai kita. Kita ingin semua rencana berjalan mulus. Kita ingin hidup selalu adil. Ketika kenyataan berkata lain, kita kecewa.
Padahal, ketenangan bukan berasal dari dunia yang sempurna. Ketenangan muncul ketika kita berhenti memaksa dunia mengikuti keinginan kita.
Bukan berarti Stoikisme mengajarkan pasrah. Justru sebaliknya. Filosofi ini mendorong kita memberikan usaha terbaik pada setiap hal yang memang bisa kita lakukan. Bekerja dengan sungguh-sungguh, bersikap jujur, menjaga kesehatan, dan memperlakukan orang lain dengan baik. Setelah itu, hasil akhirnya diterima apa adanya, karena tidak semua hal berada di tangan kita.
Mungkin kita tidak bisa mengendalikan apa yang akan terjadi besok. Namun, kita selalu bisa memilih bagaimana bersikap hari ini. Dan sering kali, pilihan kecil itulah yang menentukan apakah kita akan hidup dalam kecemasan atau dalam ketenangan.
Pada artikel berikutnya, kita akan membahas konsep paling terkenal dalam Stoikisme, yaitu Dikotomi Kendali. Konsep sederhana ini telah membantu banyak orang mengurangi stres, mengambil keputusan dengan lebih jernih, dan menjalani hidup dengan pikiran yang lebih damai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....