Alpukat Hass Jadi Primadona Baru Petani Sembalun

  • 29 Mar 2026 19:31 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Kawasan dingin Sembalun, yang berada di kaki Gunung Rinjani, selama ini dikenal sebagai sentra stroberi, kopi, dan bawang putih. Kini, komoditas baru mulai mencuri perhatian, yakni alpukat varietas unggulan dunia, Alpukat Hass.

Dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi dibanding alpukat lokal, buah berkulit kasar ini menjadi peluang baru yang menjanjikan bagi para petani. Harga alpukat Hass di pasaran bisa mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, jauh di atas alpukat biasa yang hanya berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

Salah satu pelopor budidaya alpukat Hass di Sembalun adalah H. Aras. Sejak 2022, ia mengembangkan kebun alpukat di lahan seluas 30 are di sekitar penginapannya, dari 87 pohon yang ditanam, hasilnya cukup menjanjikan.

Pada panen perdana saat usia pohon mencapai 1,5 tahun, setiap pohon mampu menghasilkan hingga 90 kilogram buah. Dengan total sekitar 87 pohon, produksi diperkirakan mencapai 3 hingga 3,5 ton dalam satu musim panen.

“Kalau kita hitung, kita unggul di harga, bukan hanya jumlah. Alpukat lokal Rp15.000 sudah bagus, tapi Hass bisa Rp40.000 sampai Rp50.000 per kilo,” ujar H. Aras, Minggu, 29 Maret 2026.

Selain harga tinggi, keunggulan alpukat Hass juga terletak pada kualitasnya. Tekstur daging buah yang padat, kadar air rendah, serta daya simpan yang lebih lama membuatnya diminati, terutama oleh wisatawan.

Menariknya, H. Aras menggabungkan budidaya alpukat dengan konsep agrowisata. Kebun miliknya terintegrasi dengan vila dan penginapan, sehingga pengunjung dapat merasakan pengalaman memetik buah langsung dari pohon.

“Tamu-tamu sangat senang karena bisa petik sendiri. Bahkan mereka berani bayar lebih mahal dari harga pasar. Rata-rata satu orang bisa beli lebih dari 10 kilogram,” jelasnya.

Menurutnya, teknik budidaya yang diterapkan juga masih organik tanpa pestisida. Proses panen pun dilakukan dengan hati-hati menggunakan gunting agar tangkai tetap menempel, sehingga buah lebih tahan lama dan tidak cepat busuk saat didistribusikan ke luar daerah.

Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi petani saat ini adalah pemasaran, terutama bagi yang tidak memiliki akses langsung ke wisatawan. H. Aras berharap pemerintah daerah, khususnya Lombok Timur, dapat membantu membuka akses pasar yang lebih luas agar potensi alpukat Hass benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan petani.

“Budidaya sudah bisa, kualitas juga bagus. Tapi saat panen raya, kami butuh kepastian pasar. Harapannya ada dukungan dari pemerintah agar petani tidak bergantung pada harga pasar tradisional,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....