Fenomena Hash Jadi Gaya Hidup Baru Warga Lombok

  • 04 Jun 2026 15:48 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Di tengah rutinitas pekerjaan yang semakin padat dan kehidupan perkotaan yang serba cepat, semakin banyak warga memilih kembali mendekat kepada alam. Aktivitas hiking atau yang lebih dikenal di kalangan komunitas sebagai hash kini berkembang bukan sekadar olahraga, melainkan menjadi gaya hidup yang memadukan kesehatan, rekreasi, dan penguatan relasi sosial.

Fenomena tersebut terlihat dari berkembangnya Begelamang Community, sebuah komunitas pecinta alam yang dalam waktu kurang dari satu tahun berhasil menarik ratusan peserta dari berbagai latar belakang profesi dan kelompok usia. Setiap akhir pekan, para anggotanya menyusuri bukit, hutan, air terjun hingga jalur pegunungan di Pulau Lombok, menjadikan alam sebagai ruang pertemuan sekaligus sarana membangun kebersamaan.

Ketua Begelamang Community, Dr. H. Mansur, mengatakan aktivitas hash yang dilakukan komunitasnya tidak semata-mata berorientasi pada kebugaran fisik. Menurutnya, nilai utama yang dibangun adalah mempererat silaturahmi dan memperkuat rasa persaudaraan di antara para peserta.

“Hash bukan sekadar mencari sehat. Di dalamnya ada kebersamaan, kekompakan, dan silaturahmi. Saat berjalan bersama menuju tujuan, hubungan antarpeserta terbangun secara alami,” ujarnya, Kamis 4 Juni 2026.

Komunitas yang resmi terbentuk pada 5 Juli 2025 tersebut kini memiliki peserta aktif yang rutin mengikuti kegiatan setiap Minggu dengan jumlah berkisar antara 80 hingga lebih dari 100 orang. Mereka mengusung motto sederhana namun sarat makna: ‘Jauh dekat, pulang sama senang’, sebuah filosofi yang menempatkan kebersamaan sebagai tujuan utama perjalanan.

"Kami telah menjelajahi berbagai destinasi alam di Pulau Lombok. Pada kegiatan terbaru, 31 Mei lalu, sebanyak 127 peserta mengikuti hash menuju Pos II Gunung Rinjani melalui jalur Kandang Sapi. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi perjalanan ke-42 sejak komunitas itu berdiri," ucap Mansur.

Menurut Mansur Meningkatnya minat masyarakat terhadap kegiatan berbasis alam menunjukkan adanya perubahan pola hidup di kalangan warga perkotaan. Jika sebelumnya akhir pekan identik dengan pusat perbelanjaan atau hiburan dalam ruangan, kini banyak orang memilih berjalan kaki menembus hutan dan perbukitan untuk memperoleh pengalaman yang lebih bermakna.

"Kegiatan hash juga menawarkan ruang pelepasan stres yang sulit diperoleh di lingkungan perkotaan. sebab interaksi langsung dengan alam dapat membantu memperbaiki suasana hati, meningkatkan kebugaran, serta memperkuat hubungan sosial antarpeserta," ujarnya.

Menariknya, komunitas ini terbuka bagi siapa saja tanpa memandang usia maupun profesi. Para peserta berasal dari beragam kalangan, mulai dari tenaga kesehatan, pegawai, pengusaha, hingga pensiunan. Perbedaan latar belakang itu justru menjadi kekuatan yang memperkaya dinamika kebersamaan dalam setiap perjalanan.

"Semua gratis hanya saja kalau misalnya ada lokasi yang membutuhkan biaya masuk atau transportasi kita biasanya diskusikan dan mereka dengan sehati mengeluarkan biaya, kata Mansur yang juga Inspektur Inspektorat Kota Mataram.

Meski kerap melewati jalur yang menantang, Mansur menegaskan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Pada titik-titik yang dinilai cukup sulit, panitia biasanya memasang tali bantuan dan memastikan peserta dapat melewati medan dengan aman.

“Kadang ada trek yang cukup berat, tetapi keselamatan selalu menjadi perhatian utama. Kami saling membantu agar semua peserta bisa mencapai tujuan dengan selamat,” jelas Mansur.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....