TPID NTB Resmikan Basamula, Jadi Instrumen Pengendalian Inflasi di Sumbawa

  • 22 Agt 2026 12:19 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Sumbawa Besar — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Pemerintah Kabupaten Sumbawa memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui peluncuran Bale Sembako Murah Pengendali Inflasi atau Basamula di Pasar Seketeng, Sumbawa Besar, Sabtu 22 Agustus 2026.

Hadir pada persemian tersebut Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI NTB, Andhi Wahyu Riyadno, Pemimpin Bulog NTB Mara Kamin Siregar, perwakilan Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Kepala BPS NTB, Wahyudin dan sejumlah organisasi perangkat daerah.

Wakil Gubernur NTB Hj Indah Damayanti Putri saat sambutan pada peluncuran toko tersebut mengatakan, kehadiran Basamula merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan ketersediaan kebutuhan pokok sekaligus menjaga kestabilan harga di tengah masyarakat.

Menurutnya, keberadaan toko tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam mengantisipasi kelangkaan dan kenaikan harga, terutama menjelang hari besar keagamaan maupun momentum tertentu yang biasanya mendorong peningkatan permintaan masyarakat.

“Tujuannya untuk mengecek secara langsung dalam menghadapi beberapa hari besar atau bulan-bulan tertentu di mana sering sekali terjadi kelangkaan dan kenaikan harga,” kata Indah.

Indah menjelaskan, kunjungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) NTB ke Kabupaten Sumbawa juga untuk memastikan kesiapan distributor dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, meskipun terdapat sejumlah komoditas yang belum memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi di Sumbawa, langkah antisipasi tetap harus dilakukan sejak dini.

“Kami hadir memastikan dan melihat secara langsung terutama sekali kesiapan distributor di dalam melayani apa yang menjadi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Sumbawa,” ujarnya.

Indah juga mengapresiasi keberadaan Pasar Seketeng yang dinilainya sebagai salah satu pasar kebanggaan masyarakat NTB. Ia menilai, penataan pasar tidak hanya berkaitan dengan menghadirkan penjual dan pembeli, tetapi membutuhkan komunikasi dan sinergi antara pemerintah, pengelola pasar, pedagang, serta masyarakat.

“Pasar Seketeng adalah salah satu pasar kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Barat yang masih terjaga dan tertata,” katanya.

Menurut Indah, Pasar Seketeng juga menunjukkan posisi strategis Sumbawa sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di NTB. Pasar tersebut menjadi tempat bertemunya pelaku usaha dan masyarakat dari berbagai wilayah.

“Ini menandakan bahwa Sumbawa menjadi tempat yang sangat strategis bagi pelaku usaha untuk hadir dan mencari serta membesarkan usaha yang mereka miliki,” kata Indah.

Indah mengatakan pengendalian inflasi tidak bisa hanya dilakukan oleh satu daerah. Jika salah satu kabupaten atau kota mengalami tekanan inflasi, daerah lainnya di NTB diharapkan ikut melakukan intervensi.

“Bila ada kabupaten yang terjadi inflasi, maka kabupaten lain juga mengintervensi untuk menekan angka tersebut. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” tegasnya.

Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Sumbawa, khususnya perangkat daerah terkait, untuk terus memperkuat pemantauan terhadap harga dan ketersediaan kebutuhan pokok.

Menurut Indah, pengendalian inflasi menjadi perhatian pemerintah pusat sehingga daerah harus melakukan langkah antisipatif dan intervensi secara konsisten.

Sementara itu, Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P. menyambut baik peluncuran Basamula di Pasar Seketeng. Ia menilai keberadaan program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di daerah.

Syarafuddin mengaku senang Basamula diluncurkan di Pasar Seketeng. Namun, ia menegaskan keberadaan toko sembako murah tersebut bukan untuk mengambil alih pasar atau bersaing dengan pedagang yang selama ini berjualan.

Menurutnya, Basamula memiliki tugas utama sebagai instrumen pengendalian harga ketika terjadi gejolak harga kebutuhan pokok. “Senang Basamula ini diluncurkan di Pasar Seketeng. Tugasnya hanya mengendalikan harga dan tidak sampai menyaingi pedagang yang ada,” kata Syarafuddin.

Ia berharap keberadaan Basamula dapat berjalan secara proporsional dan tetap memberikan ruang bagi para pedagang Pasar Seketeng untuk menjalankan aktivitas usahanya.

Dengan demikian, intervensi pemerintah melalui penyediaan sembako murah tetap dapat dilakukan tanpa mengganggu ekosistem perdagangan yang sudah terbentuk di Pasar Seketeng.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....