BI NTB Perkuat Pengendalian Inflasi Pangan saat Perayaan Maulid di Lombok
- 02 Sep 2026 13:27 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram — Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat langkah pengendalian inflasi pangan saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Penguatan dilakukan dengan memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta keterjangkauan harga sejumlah komoditas pangan yang berpotensi mengalami peningkatan permintaan.
Kepala Kantor Perwakilan BI NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan Maulid menjadi salah satu momentum yang perlu diantisipasi karena secara historis terjadi peningkatan permintaan terhadap sejumlah bahan pangan, terutama beras dan daging ayam.
Hal tersebut disampaikan Hario dalam acara bincang bareng media bersama Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (FWE) NTB di Mataram, Rabu 2 September 2026.
Menurut Hario, pola inflasi sejak 2023 menunjukkan beras dan daging ayam menjadi komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi pada periode Maulid. Kondisi tersebut menjadi perhatian BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa memicu lonjakan harga.
"Kalau kita lihat khusus pada periode Maulid, tekanan inflasi sejak tahun 2023 terutama bersumber dari beras dan daging ayam. Ini menunjukkan adanya pola peningkatan permintaan terhadap komoditas pangan selama periode perayaan Maulid," ujarnya.
Untuk itu, BI NTB memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh TPID di NTB. Salah satu instrumen yang diperkuat adalah Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai bentuk intervensi untuk menjaga keterjangkauan harga di tingkat masyarakat.
BI turut memfasilitasi pelaksanaan GPM yang digelar di berbagai kabupaten/kota. Program tersebut menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi melalui penguatan pasokan sekaligus memperpendek mata rantai distribusi pangan.
"Gerakan Pangan Murah dilaksanakan secara serentak di 10 kabupaten/kota. Ini kita lakukan sebelum Maulid dan GPM juga masih terus dilakukan di seluruh kabupaten/kota," kata Hario.
Selain intervensi harga melalui GPM, BI NTB juga menjalankan langkah yang bersifat lebih struktural, yakni memperkuat produksi pangan. Dukungan diberikan melalui penyediaan sarana produksi bagi petani dan nelayan, termasuk bantuan pompa air untuk menjaga produktivitas pertanian.
Upaya pengendalian inflasi juga dilakukan dengan memastikan kondisi pasokan langsung dari sentra produksi. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian BI adalah Kabupaten Lombok Timur yang dikenal sebagai salah satu sentra pangan NTB.
Hario mengatakan BI NTB bahkan turun langsung ke Lombok Timur untuk melihat kondisi produksi dan pasokan sejumlah komoditas strategis. Dalam kunjungan tersebut, BI melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah, mengunjungi demplot bawang putih di Sembalun, memantau pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Desa Lenek, serta melihat langsung produksi cabai dari petani champion cabai nasional.
Dari hasil pemantauan tersebut, BI NTB memperoleh gambaran bahwa ketersediaan cabai rawit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Maulid relatif aman. "Untuk ketersediaan cabai rawit untuk Maulid, Insyaallah akan aman. Tinggal bagaimana kita melakukan pengendalian harganya di pasar," ujarnya.
Karena itu, BI tidak hanya melihat sisi produksi, tetapi juga menelusuri rantai distribusi komoditas dari petani hingga pasar. Langkah ini penting untuk memastikan pasokan yang tersedia di tingkat produsen dapat tersalurkan dengan baik kepada konsumen.
Menurut Hario, pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilakukan melalui operasi pasar ketika harga sudah meningkat. Stabilitas harga harus dibangun sejak dari sisi produksi, distribusi hingga konsumsi.
"Jadi bagaimana kita memastikan ketersediaan dan keterjangkauan tetap terjaga selama periode perayaan," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....