Konsumsi Pemerintah dan Rumah Tangga Topang Ekonomi NTB TW I 2026
- 30 Mei 2026 16:20 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Ekonomi NTB Triwulan I 2026 tumbuh 13,64 persen year on year (yoy).
- Ekonomi NTB triwulan I 2026 yang tumbuh 13,64 persen (yoy) diikuti ekonomi nontambang yang mencapai 10,31 persen (yoy).
RRI.CO.ID, Mataram - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, satuan kerja Kementerian Keuangan di NTB, dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) wilayah NTB, Jumat, 29 Mei 2026, di Mataram, menggelar Media Briefing bertema Sinergi Kebijakan untuk Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah yang Berkelanjutan. Pertemuan Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) NTB ini menggarisbawahi ekonomi Triwulan I 2026 tumbuh di atas konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga.
Hadir sebagai pemateri, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTB Ratih Hapsari Kusumawardani, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Nusa Tenggara Judiana Manihuruk, KPwBI NTB Hario Kartiko Pamungkas, Kepala OJK NTB Rudi Sulistyo, dan Kepala Kantor Perwakilan LPS NTB Bambang S. Hidayat.
Kepala Perwakilan BI NTB Hario Kartiko Pamungkas mengatakan, ekonomi NTB Triwulan I 2026 tumbuh 13,64 persen year on year (yoy). Pertumbuhan itu didorong kuatnya ekspor konsentrat tembaga, peningkatan konsumsi pemerintah melalui realisasi gaji ke-14 PNS, serta konsumsi rumah tangga pada momentum Ramadan dan Idulfitri.
Hario mengatakan, secara sektoral, pertumbuhan ditopang akselerasi pertambangan dan pertanian, didukung siklus produksi yang lebih baik serta penurunan HET pupuk subsidi. Ke depan, peluang berasal dari peningkatan demand terhadap tembaga dan katoda, kualitas ore yang lebih baik, serta akselerasi berbagai program prioritas pemerintah (MBG, KDMP, FLPP, Sekolah Garuda, dan KawasanIndustri Peternakan Unggas). Namun, risiko berasal dari tensi geopolitik global, berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat, belum optimalnya smelter, kenaikan biaya impor, serta peningkatan biaya logistik.
DIkatakan Hario pula, ekonomi NTB triwulan I 2026 yang tumbuh 13,64 persen (yoy) diikuti ekonomi nontambang yang mencapai 10,31 persen (yoy). Konsumsi rumah tangga di NTB tumbuh 5,5 persen. Konsumsi pemerintah tumbuh 7,29 persen. Secara sektoral, ekonomi NTB Triwulan I 20226 ditopang oleh kinerja pertambangan dan pertanian yang tumbuh akseleratif. Pertanian tumbuh 10,3 persen, yoy, ditopang oleh adanya peningkatan produktivitas. Pertambangan tumbuh 31,8 persen, yoy, didorong meningkatnya produksi hasil pertambangan konsentrat. Perdagangan tumbuh 9,9 persen, yoy, dan industri tumbuh 60,4 persen, yoy.
Kepala OJK Rudy Sulistyo mengatakan, secara ytd (year to date), kredit perbankan di NTB posisi Maret 2026 tumbuh sebesar Rp0,3 T (+0,38 persen) atau tumbuh 6,67 persen yoy, didorong oleh kredit investasi dan konsumsi masing-masing meningkat sebesar 0,59 persen dan 1,70 persen. Sementara kredit modal kerja turun sebesar 2,09 persen ytd. Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi kabupaten dan kota secara yoy tertinggi di Kota Mataram sebesar Rp1,85 T (+3,99 persen) sementara secara ytd di Sumbawa Rp0,99 T (+1,42 persen) pada posisi Maret 2026.
Hingga posisi Maret 26, Kredit UMKM di Provinsi NTB tercatat sebesar Rp22,22 T, turun sebesar Rp0,61 T (2,65 persen yoy) dibandingkan posisi yang sama pada tahun lalu dan turun Rp0,24 T (1,07 persen ytd) dibandingkan Desember 2025.
"Porsi kredit UMKM terhadap total kredit terus menurun dalam satu tahun terakhir dan tercatat sebesar 28,03 persen pada posisi Maret 2026 atau turun 2,68 persen dibandingkan dengan posisi yang sama tahun sebelumnya (Maret 2025) dan turun sebesar 0,41 persen dibandingkan Desember 2025," kata Rudy.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....