OJK NTB Edukasi Literasi Keuangan Santri di Ponpes Nurul Hikmah Langko Lobar

  • 13 Mar 2026 13:15 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis NTB (FWE NTB) menggelar edukasi industri jasa keuangan di Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Nurul Hikmah Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Kamis 12 Maret 2026 sore. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya kalangan santri, terhadap penggunaan layanan keuangan yang aman, produktif, dan bertanggung jawab.

Kepala OJK NTB, Rudi Sulistyo mengatakan keterlibatan pesantren dalam program literasi keuangan dinilai strategis karena lembaga pendidikan berbasis keagamaan memiliki komunitas besar sekaligus aktivitas ekonomi yang terus berkembang.

Menurutnya, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan ekonomi masyarakat.

“Kolaborasi dengan pondok pesantren menjadi salah satu upaya kami dalam memperluas ekosistem literasi dan inklusi keuangan di masyarakat,” ujar Rudi.

Ia menjelaskan OJK saat ini mengembangkan program penguatan ekosistem keuangan bernama Ekosistem Pondok Pesantren Inklusif Keuangan Syariah (EPIKS). Program tersebut sebelumnya difokuskan pada ekosistem pesantren, namun kini diperluas sebagai pusat penggerak aktivitas keuangan masyarakat sehari-hari.

Melalui program tersebut, OJK berupaya membangun sistem keuangan yang lebih inklusif dengan melibatkan berbagai komunitas, termasuk pesantren yang memiliki aktivitas ekonomi cukup aktif.

“Program ini sudah dilaksanakan di beberapa wilayah dan ke depan akan terus diperluas agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan edukasi keuangan,” katanya.

Rudi menambahkan peningkatan literasi keuangan di kalangan santri menjadi penting karena mereka merupakan generasi muda yang mulai memasuki fase kemandirian ekonomi.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi edukasi keuangan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan praktik langsung agar lebih mudah dipahami.

Materi literasi yang diberikan mencakup pemahaman mengenai produk perbankan, layanan keuangan digital, hingga peluang usaha melalui agen layanan keuangan di masyarakat.

“Santri diperkenalkan dengan berbagai produk keuangan serta peluang usaha seperti membuka agen layanan keuangan atau agen perdagangan yang bisa menjadi sumber pendapatan tambahan,” jelasnya.

Selain itu, edukasi juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai risiko keuangan, termasuk praktik investasi ilegal dan pinjaman online yang tidak terdaftar.

“Kami ingin para remaja memahami penggunaan layanan keuangan digital dengan bijak sehingga tidak tertipu investasi bodong ataupun pinjaman online ilegal,” tambahnya.

Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Nurul Hikmah Langko, TGH Azhar Rasyidi menyambut positif program literasi keuangan yang digagas OJK tersebut.

Menurutnya, kegiatan ini membuka peluang bagi pesantren untuk lebih aktif mengembangkan potensi ekonomi di lingkungan pendidikan.

Ia mengakui bahwa pesantren memiliki aktivitas ekonomi yang cukup besar dengan perputaran dana yang terjadi setiap hari melalui berbagai kegiatan pendidikan maupun usaha santri.

“Program ini sangat baik karena pesantren juga memiliki aktivitas ekonomi yang cukup besar dan membutuhkan pengelolaan yang lebih baik,” ujarnya.

Azhar berharap pendampingan dan edukasi dari OJK dapat membantu pesantren meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan sekaligus mendorong tumbuhnya kewirausahaan di kalangan santri.

Dengan adanya literasi keuangan yang berkelanjutan, ia optimistis pesantren tidak hanya mampu mencetak generasi yang kuat dalam pendidikan agama, tetapi juga memiliki kemampuan finansial yang baik serta mampu berkontribusi dalam penguatan ekonomi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....