Ekonomi NTB 2025 Tumbuh 3,22 Persen, Sektor Non-Tambang Melonjak 8,54 Persen

  • 06 Mar 2026 08:21 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2025 tercatat sebesar 3,22 persen. Meski masih dipengaruhi fluktuasi sektor pertambangan, sektor non-tambang justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas mengatakan, ekonomi NTB masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap sektor pertambangan. Namun, pertumbuhan dari sektor lain mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Kalau kita lihat perhitungan pertumbuhan ekonomi NTB untuk sektor non-tambang, pada 2025 itu mencapai 8,54 persen. Ini meningkat dibandingkan 2024 yang hanya sekitar 3,95 persen,” ujar Hario, Kamis 5 Maret 2026 pada Media Briefing NTB Triwulan I 2026 di salah satu hotel di kawasan wisata Senggigi Lombok Barat.

Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi kabar baik karena menunjukkan bahwa sektor di luar pertambangan semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Artinya sektor-sektor di luar tambang itu juga semakin meningkat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi NTB,” katanya.

Dari sisi komponen pengeluaran, pertumbuhan ekonomi NTB pada 2025 terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,49 persen. Hal ini menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat masih cukup tinggi.

Selain itu, konsumsi pemerintah juga ikut menopang pertumbuhan ekonomi daerah, diikuti oleh investasi yang masih mencatatkan pertumbuhan 1,89 persen sepanjang tahun 2025.

Jika dilihat dari lapangan usaha, terdapat tiga sektor utama yang menjadi penggerak ekonomi NTB pada 2025.

Pertama adalah sektor pertanian dengan pangsa sekitar 21,89 persen terhadap perekonomian NTB dan tumbuh 5,04 persen. Hario menyebut pertumbuhan ini didukung berbagai program pemerintah dalam meningkatkan produksi pertanian.

“NTB merupakan salah satu sentra pangan nasional, sehingga sektor pertanian masih menunjukkan kinerja yang cukup baik,” jelasnya.

Sektor kedua adalah perdagangan yang memiliki pangsa 14,53 persen dan tumbuh 6,15 persen pada 2025.

Sementara itu, sektor yang mengalami lonjakan paling tinggi adalah industri pengolahan. Pada 2025 sektor ini mencatatkan pertumbuhan hingga 76,39 persen.

Pertumbuhan tinggi tersebut dipicu oleh semakin optimalnya operasional smelter pengolahan mineral di NTB.

Hario menjelaskan, fasilitas pengolahan tersebut mulai menghasilkan produk bernilai tambah seperti emas dan perak melalui fasilitas precious metals refinery yang mulai beroperasi pada triwulan III 2025 dan semakin meningkat produksinya pada triwulan IV.

“Dengan semakin optimalnya operasional smelter, industri pengolahan di NTB dapat memberikan kontribusi yang semakin positif terhadap perekonomian daerah,” ujarnya.

Di sisi lain, sektor pertambangan justru mengalami kontraksi sekitar 20,05 persen pada 2025 akibat adanya pembatasan produksi.

Meski demikian, transformasi menuju industri pengolahan dinilai dapat memperkuat struktur ekonomi NTB ke depan dengan meningkatkan nilai tambah dari komoditas tambang yang dihasilkan di daerah tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....