Mengungkap Cerita di Balik Tekstil Lombok dalam Buku Two Islands, One Thread

  • 16 Sep 2026 14:33 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Kekayaan tekstil tradisional Lombok mendapat ruang dalam publikasi internasional melalui buku berjudul Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection. Buku tersebut diluncurkan pada 12 September 2026 di Art Gallery of South Australia (AGSA), Adelaide, Australia Selatan.

Kepala Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB), Ahmad Nuralam mengatakan, buku tersebut secara khusus mengulas tekstil Lombok sekaligus melihat keterkaitannya dengan tradisi tekstil Bali. Publikasi itu menjadi salah satu upaya mendokumentasikan kain tradisional melalui pendekatan ilmiah.

“Buku ini bercerita tentang kain Lombok, hubungan antara kain Lombok dengan kain Bali, dan kain Bali itu sendiri,” ungkapnya, Rabu 16 September 2026.

Menurutnya, keseriusan dalam mendokumentasikan tekstil terlihat dari ketebalan buku yang mencapai 572 halaman. Buku tersebut memuat pembahasan mengenai ratusan motif dan koleksi kain yang menjadi bagian dari kajian.

Nuralam menjelaskan, buku tersebut melibatkan penulis dan kontributor dari sejumlah negara. Berdasarkan daftar nama yang tercantum dalam buku, terdapat 19 penulis atau kontributor, yakni Ahmad Sugeng, James Bennett, Lalu Hilman Afriandi, Dina Faisal, Khacrul Anwar, Salsabila Luqyiana, Muchammadun, Bunyamin, Urmila Mohan, Lira Anindita Urami, Aditya Bayu Perdana, Tetsu Ito, Emily Collins, Michael Abbott, Philip Sykas, I Made Rai Artha, Bruce W. Carpenter, Ida Ayu Ngurah Puniari, dan I Bagus Wijna Bratanatyam.

Sejumlah penulis tersebut berasal dari berbagai negara, di antaranya Australia, Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia. Dari Indonesia, terdapat beberapa penulis yang berkontribusi dalam pembahasan tekstil Lombok, termasuk dua penulis dari Museum NTB.

Keterlibatan para penulis dari berbagai negara membuat buku tersebut tidak sekadar menjadi katalog koleksi kain. Nuralam berharap buku ini dapat menjadi rujukan ilmiah bagi masyarakat internasional yang ingin memahami sejarah dan kebudayaan tekstil Lombok dan Bali.

“Ini akan menjadi standar penulisan tentang kain yang secara ilmiah, dengan standar-standar ilmuwan,” ujarnya.

Salah satu pihak yang berada di balik penerbitan buku tersebut adalah Michael Abbott, kolektor asal Australia. Nuralam menjelaskan, Abbott membiayai sendiri proses penulisan dan penerbitan buku yang mengangkat koleksi tekstil tersebut.

Koleksi yang dibahas dalam buku mencakup ratusan motif kain. Sumbernya berasal dari koleksi tekstil Museum NTB, koleksi Michael Abbott, serta sejumlah koleksi kain lainnya yang menjadi bagian dari kajian.

Nuralam mengatakan, keterlibatan Museum NTB dalam peluncuran buku tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap proses panjang pendokumentasian kain tradisional. Kehadiran dalam peluncuran juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama dan diplomasi budaya antara Indonesia dan Australia.

Ia menilai publikasi tersebut dapat menjadi titik awal bagi pengembangan kajian tekstil di NTB. Tidak hanya kain Lombok, ke depan diharapkan semakin banyak kekayaan tekstil dari wilayah lain di Nusa Tenggara Barat yang dapat ditulis dan didokumentasikan dengan pendekatan keilmuan.

“Ini adalah starting point. Kita berharap pendekatan keilmuan untuk budaya itu terus dilakukan,” katanya.

Buku Two Islands, One Thread dicetak sekitar 1.000 eksemplar untuk tahap awal. Buku tersebut akan dipasarkan melalui jaringan toko buku Periplus yang berada di sejumlah bandara internasional.

Menurut Nuralam, keberadaan buku tersebut juga membuka akses bagi masyarakat, wisatawan, maupun mahasiswa yang membutuhkan referensi mengenai tekstil Lombok. Buku ini sekaligus dapat menjadi pintu masuk bagi mereka yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai kekayaan kain tradisional Lombok.

Sementara itu, kemungkinan penerjemahan buku ke bahasa Indonesia masih terbuka dalam pengembangan publikasi berikutnya. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap kajian tekstil Lombok, terutama bagi pembaca dan peneliti di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....