Perjalanan Dr. James Bennett Belajar Bahasa Indonesia Berawal dari Beasiswa Tahun
- 29 Jul 2026 16:32 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Tenun NTB
- Buku Two Islands One Thread: Lombok and Bali Textiles from the Michael Abbott Collection
- NTB Mendunia
- SEJARAH TENUN NTB
RRI.CO.ID, Mataram - Kepiawaian Kurator Seni Asia Tenggara asal Australia, Dr. James Bennett, berbahasa Indonesia menjadi perhatian dalam perbincangan Program Berugak Kita Pro 4 RRI Mataram. Di balik kelancarannya berdialog mengenai budaya Indonesia, ternyata tersimpan perjalanan panjang yang telah dimulai lebih dari empat dekade lalu melalui sebuah beasiswa dari Pemerintah Indonesia.
Bennett mengaku dirinya pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1979. Saat itu ia memperoleh kesempatan belajar membuat wayang kulit di Surakarta melalui program beasiswa dari Pemerintah Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi titik awal kedekatannya dengan seni dan budaya Nusantara.
"Saya datang ke Indonesia pertama kali tahun 1979. Waktu itu saya belajar membuat wayang kulit di Solo melalui beasiswa dari Pemerintah Indonesia, bukan beasiswa Australia," ujar Bennett. Sejak saat itu ia kerap bolak-balik ke Indonesia dan bahkan pernah menetap di Yogyakarta selama beberapa tahun untuk memperdalam kajian seni dan budaya.
Meski telah puluhan tahun mempelajari Indonesia, Bennett mengaku kemampuan berbahasa Indonesianya diperoleh bukan melalui pendidikan formal. Dengan nada bercanda ia mengatakan, "Maaf, saya cuma belajar bahasa Indonesia di pinggir jalan. Sampai sekarang saya belum pernah masuk kursus."
Menurut Bennett, bahasa menjadi jembatan penting dalam memahami kebudayaan. Kemampuan berkomunikasi secara langsung membuatnya lebih mudah berdiskusi dengan para penenun, budayawan, kolektor, hingga masyarakat yang selama ini menjadi sumber utama penelitiannya mengenai tekstil Indonesia.
Penguasaan bahasa Indonesia juga menjadi salah satu alasan mengapa Bennett mampu membangun hubungan yang erat dengan berbagai komunitas budaya di Indonesia, termasuk di Lombok. Ia tidak hanya datang sebagai peneliti, tetapi juga mendengarkan cerita masyarakat, memahami istilah-istilah lokal, hingga mengikuti proses pelestarian budaya secara langsung.
Pengalaman panjang tersebut akhirnya mengantarkan Bennett menjadi salah satu pakar seni Asia Tenggara yang banyak berkontribusi dalam penelitian tekstil Indonesia. Melalui buku Two Islands One Thread, dedikasinya berpadu dengan kontribusi para penulis lokal untuk memperkenalkan kekayaan wastra Lombok kepada masyarakat internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....